• Home
  • Thoughts
  • Writing
  • Journey
  • Inspiration
  • Portfolio
Pinterest Instagram Twitter Facebook Email

Naimmah Nur Aini

Yak, perlu waktu berjuta tahun lamanya buat sekedar update lima list lainnya. Sungguh sebuah kesia-siaan duniawi yang kuhabiskan setiap harinya hahaha. 

Yok lah mari kita lanjutkan daftar selanjutnya untuk coba mengidentifikasi hal-hal yang kita lakuin setiap harinya itu udah bener apa belum. 

6. Kamu tidak lagi takut menjalani hari-harimu seperti kamu yang dahulu

Secara harfiah mungkin bukan 'takut' karena ada hal-hal yang tidak menyenangkan menghadang setiap harinya. Tapi lebih ke perasaan-perasaan gagal yang kelamaan bersarang tanpa pernah dievaluasi apa sebabnya. 

Misalnya dulu aku adalah tipe orang yang begitu inferior atas hal apapun yang melakat dalam diriku. Selalu mengolok diri bahwa aku gendut lah, kayak ibu-ibu lah, nggak punya selera fashion lah, cemen mau kemana-mana sendiri bahkan untuk nonton bioskop sendiri. Tapi, dengan perasaan tidak nyaman yang aku pelihara selama ini, aku tahu bahwa aku salah dengan semua perasaan itu. Akhirnya pelan-pelan aku mencoba untuk mulai menerima diriku apa adanya. Ya beginilah, emang kenapa? Aku embrace diriku untuk berani berkata, bersikap lebih gentle ke diri sendiri. Dan itu terbukti manjur untuk lebih bersikap bodo amat untuk hal-hal yang nggak esensial untuk dipikirkan:). Belum semuanya di titik meningkatkan kapasitas diri, tapi nggak apa-apa karena mungkin ada hal-hal yang cukup diterima saja tanpa perlu ada improve apa-apa. Karena terlalu banyak layer yang terlalu kompleks sampai kemampuan yang kita miliki masih di titik mengamini. 

7. Mau menerima bahwa hari-hari bisa sangat baik, atau sangat buruk

Nggak apa-apa kalau hari ini kamarmu rapi, beberapa jam kemudian udah berantakan kayak habis dihantam tangan Hulk padahal cuma lupa naruh hape pas beres-beresnya WKWKWK. Padahal ngumpulin mood-nya udah setengah mati. YA SUDAH BIASA. Kalau ada hari yang capek banget, kesel sama orang yang biasanya kulakukan adalah mikirin itu berjuta-juta hari dan akhirnya jadi destruktif ke diri sendiri. Kalau sekarang ya diamini saja namanya manusia biasa ya wajar aja kalau segala hal nggak selalu ideal. Ya sambil berkhayal satu hari atau beban segera pergi, dan kalau itu bisa membantu membuat perasaan lebih baik ya YAUDAH NGAYAL AJA nggak salah. Tapi mungkin perlu dibangun mindset kalau semua hal itu, baik dan buruk, akan berlalu. Jadi mungkin nggak bijak juga untuk terlalu attach sama satu momen, karena bersama kesedihan selalu ada kebahagiaan dan vice versa. Yang terpenting dari poin ini adalah hadir di sini, kini untuk merasakan semua proses dengan kesadaran penuh. 

8. Selalu menghargai semua orang

Attitude untuk menghargai semua orang itu mahal banget harganya. Attitude baik menurutku adalah investasi terbesar manusia. Untukku attitude selalu jadi indikator untuk menilai orang lain. Dengan membangun attitude tanpa menghakimi akan membawa kita pada petualangan-petualangan perspektif yang lebih luas. Kalau ditanya apa goals dari bersikap respect ini? Kalau menurutku kebijaksanaan dan ego. Ada dua hal esensial yang akan kita dapatkan apabila kita membentuk sikap menghargai orang lain ini. Kebijaksaan termasuk di dalamnya adalah ilmu, pengalaman (baik dan buruk), kesabaran dan juga ego bahwa di bawah langit masih ada langit atau ego untuk tidak menghakimi dengan apa yang kita anggap kita berdampak untuk kita. 

9. Kamu tahu apa 'panggilan jiwamu' 

Lanjutannya adalah agar orang lain tidak bisa menghentikan langkahmu. Nggak salah untuk bercita-cita jadi influencer, dokter, arsitek, konsultan, model you name it. Atau mungkin yang banyak digaungkan orang adalah passion. Silakan aja pakai istilah itu kalau kamu nyaman. Kalau aku lebih suka dengan istilah 'grit'. Mungkin bisa dibilang grit ini adalah next level dari passion. Grit adalah kekuatan passion ditambah kegigihan kalau kata Angela Duckworth. 

Beberapa hari yang lalu, ada seorang kawan yang bercerita bahwa dia bingung dengan tujuan karirnya. Dia tahu yang dia mau adalah bekerja sebagai copywriter, tetapi ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan lain, dia sedikit bingung untuk mengambil keputusan. Dan, menurutku hal seperti ini juga banyak terjadi pada oranglain, termasuk aku sendiri. Kalau ditanya apa yang menjadi tujuanku dalam hidup maka ada hal esensial yang harus menjadi pegangan. Walaupun jalan menuju tujuan itu harus dibreakdown menjadi tujuan karir, tujuan percintaan, tujuan pendidikan atau apa pun. Dan tujuan-tujuan dari masing-masing lini kehidupan itu yang mungkin saja dinamis, dan itu nggak apa-apa dan wajar. Menurutku yang harus diketahui adalah mengenai tujuan hidup yang paling utama itu apa? Kita ingin menjadi orang seperti apa? Itu yang akan menjadi pegangan kita untuk lebih realistis dalam melangkah, seabstrak apa pun tujuan hidup kita. Tujuan-tujuan pada berbagai lini itu yang akan membuatnya menjadi konkret. 

10. Kamu tahu apa yang kamu lakukan

Sedang dan akan. Jadi orang-orang tidak mudah menjatuhkanmu. Persistence atau kegigihan dengan apa yang menjadi tujuan hidupmu dan kamu melakukannya dengan senang hati, serius maka jalan akan lebih terang. Menjadi strategis untuk semua tujuan-tujuan hidup kita. Memahami diri sendiri (kelebihan, kelemahan) dan mengamini semua hal itu untuk melakukan upaya terbaik. Tidak takut pada pilihan, tidak takut gagal, tidak takut konsekuensi. Juga memahami bahwa tidak takut adalah sikap keberanian dan penerimaan diri bahwa gagal dan berhasil adalah biasa. Tidak takut adalah memberikan kesadaran penuh pada proses-proses yang dilalui. Tidak apa untuk gagal, tidak apa untuk lelah, tidak apa untuk marah dan sedih. Lalu, memacu diri untuk bergerak lagi, untuk maju atau berganti haluan. Kalau pun ingin berhenti di tempat, sadar konsekuensinya. 

--

Bagian satu bisa di baca di sini

Sumber: Thought Catalog
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Pagi ini entah kenapa aku terpikir tentang pertanyaan, "Bagaimana aku tahu bahwa yang aku lakukan itu benar?" Tentang apa yang benar untuk dilakukan ini bukan hanya tentang pekerjaan, jurusan kuliah yang sedang kita jalani, hobi yang kita tekuni, tetapi mencakup segala hal yang melibatkan kita sebagai manusia, baik untuk diri sendiri maupun ketika menjalani peran sebagai makhluk sosial. 

Pertanyaan yang bahkan dengan satu indikator pun rasanya tadi tidak terpikirkan jawabannya sama sekali. Sampai pada akhirnya ketika di kantor, aku mencoba mencari jawabannya dan ada satu artikel panjang yang cukup menjawab pertanyaanku, walaupun secara spesifik aku juga tidak bisa mengutarakan dengan tepat masing-masing experience yang pernah aku alami untuk mengklaim bahwa di satu poin tertentu aku berhasil melaluinya atau punya mindset seperti itu. Atau mungkin mengetahui apa yang sudah benar dilakukan cukup dirasakan dengan hati? 

Tapi berhubung aku orangnya ngeyelan, maka cobalah kucari tahu hal konkret sebagai bahan konfirmasi. 

Ditemani lagu Honne, dan menganggap James Hatcher mirip Joshua Millburn-nya The Minimalist, here we go. 

1. Dapat merasakan bahwa apa yang kamu lakukan adalah hal yang benar dan itu dibuktikan dengan kamu merasa senang melakukannya

Dari poin satu ini sepertinya tidak ada hal yang bisa dibantah selain mengamini. Benar bahwa ketika mempertanyakan apa yang benar untuk dilakukan bisa dimulai dengan menanyakan ke diri kita sendiri bagaimana perasaan kita tentang apa yang sedang kita kerjakan. Sebagai contoh untuk mengonfirmasi pesan ini adalah aku suka sekali nonton Netflix atau film bagus yang bertema misteri, politik maupun kriminal. 

Ketika waktu banyak kuhabiskan untuk menonton serial atau film, aku tidak akan merasa bersalah pada diriku. Karena menurutku waktu yang kuinvestasikan untuk sebuah film atau serial adalah hal yang menyenangkan sekaligus upaya untuk belajar lebih banyak hal seperti universe-universe yang terbangun di dalamnya, pendalaman karakter, budaya, musik dan berbagai hal lain sebagaimana sebuah film seharusnya memainkan perannya, untuk memberikan hiburan itu utama, dan dampak ikutan seperti memberikan informasi atau kritik sosial. Dan banyak hal lain yang menyenangkan untuk kulakukan seperti menonton YouTube, polanya dan sensasi menyenangkannya sama ketika menonton serial/film. 

2. Ketika kamu terus melakukan sesuatu bahkan ketika tidak bisa menjelaskan kenapa kamu begitu menyukai melakukannya

Mungkin poin yang ini bisa didebat, tapi aku masih setuju. Pun mungkin jawabannya hanya sesimpel preferensi. Dan tidak ada yang salah ketika berhubungan dengan preferensi atau selera pribadi, bahkan untuk hal yang tidak bisa dijelaskan seperti suka melihat video treatment yang dilakukan dokter kulit ketika mengeluarkan komedo dari hidung pasiennya. Dan... itu aku hahaha. Walaupun bagi sebagian orang itu menjijikkan, aku tetap suka melihatnya. Tapi dalam skala yang lebih serius sepertinya untuk kasusku adalah decluttering.

Beberapa waktu ini aku lagi suka-sukanya dengan konten-konten minimalism, yang seringkali di dalamnya ada konten mengenail decluttering. Walaupun dari apa yang kudapatkan dari melihat semua hal tentang minimalism, belum banyak yang kupraktekkan, tapi aku suka sekali melihatnya. Bahkan terus-menerus aku menantang diriku untuk segera mengikuti tips yang sangat bisa kulakukan, tapi persentasenya masih kecil. Dan untuk kasus minimalism ini, terjadi dua paradoks yang sulit kubantah, ketika begitu sukanya aku dengan konten minimalism, ada hasrat yang begitu besar juga untuk terus-terusan belanja terutama skincare dan baju-baju berwarna monokrom. 

Walaupun untuk beberapa barang aku sudah tidak punya keterikatan emosi dan begitu mudah untuk decluttering, tapi dari kasus yang sama masih susah untuk menahan hasrat belanja untuk berang-barang tertentu. Tapi ini super tertentu aja, so I still appreciate myself for that. Karena pelan-pelan aku sudah mulai aware tentang barang-barang yang perlu kubeli atau tidak. Untuk paradoks di atas, aku bahkan tidak bisa menjelaskannya tetapi aku suka melakukannya. 

3. Kamu sudah berdamai dengan segala sesuatu yang terjadi di masa lalu

Poin ini menurutku sangat tepat dan begitu berdampak untukku pribadi. Aku adalah orang yang terlalu overthinking untuk segala hal yang sudah terjadi dan belum terjadi. Pikiranku terlalu rajin berkelana untuk melintasi batas ruang dan waktu hanya untuk membuatku pada akhirnya merasa resah, bersalah dan marah. Sebagai INFP, aku mengakui bahwa hidup di saat ini, kini begitu sulit untuk dilakukan. Itulah salah satu hal yang mendorongku untuk melakukan meditasi, sehingga berharap bisa lebih mindful dalam menjalani hidup. Bahasan mengenai meditasi dan mindful ini akan aku bahas di lain waktu. 

Waktu itu di Twitter aku sempat menulis tentang Alexithymia yang merupakan gangguan psikologis ketika kita tidak bisa mendeskripsikan emosi dan perasaan yang kita alami secara verbal. Dan, belum berdamai dengan masa lalu menurutku erat kaitannya dengan itu. Sempat kupikir apakah konsep berdamai dengan masa lalu adalah abu-abu, dan seorang teman bilang bahwa tidak. Berdamai dengan masa lalu bukan hanya sekedar konsep apalagi abu-abu. Bahwa kelegaan atau legowo yang dia bilang pasti bisa kita rasakan. Sebagai bukti bahwa kita sudah berdamai dengan masalalu dan melakukan hal yang tepat. 

4. Orang meluangkan waktu untukmu

No complaints about this. Menurutku ketika aku, kamu, kita sudah melakukan sesuatu yang benar, baik atau bahkan perbuatan tanpa label yang berarti bagi oranglain, menginvestasikan cinta melalui medium apa pun, entah dimaksudkan secara sengaja atau tidak, berdampak langsung maka sudah menjadi hukum alam rasanya bahwa cinta tersebut akan berbalas dengan sama besarnya atau bahkan dari orang yang tak diduga-duga berbondong-bondong meluangkan waktu untukmu. Dalam skala kecil, mungkin teman, keluarga, kolega. Dalam skala besar, kamu mungkin saja menjadi imam yang dipuja-puja dan diikuti titahnya. 

5. Kamu menyayangi dan menjaga dirimu

Belakangan, konsep self love sedang marak disuarakan seiring dengan orang-orang mulai sadar tentang kesehatan mental. Ada begitu banyak cara yang secara sederhana bisa dilakukan untuk menginvestasikan cinta untuk diri sendiri. Baik aktivitas fisik maupun psikologis banyak yang memiliki dampak positif untuk cinta diri ini. Dan, sekali lagi tidak ada komplain tentang poin yang ini. Hal yang paling benar untuk dilakukan ketika kamu mempertanyakan berbagai hal lain yang mungkin masih jadi pertanyaan besar, tetapi cinta diri ini harus menjadi hal konkret yang dilakukan. 

Implementasi cinta diri mungkin berbeda bagi setiap orang. Tapi tujuannya untuk kesehatan dan kebahagiaan sehingga bisa mencapai kesejahteraan.

--

Postingan ini akan berlanjut ke bagian dua. 

Sumber: Thought Catalog
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Pagi hari setibanya di kantor, biasanya hal pertama yang akan aku lakukan adalah menyalakan laptop, membuka email dan tentu saja menghidrasi tubuhku dengan segelas air putih hangat. Setelah itu, jika memang tidak ada pekerjaan yang menunggu untuk dikerjakan, aku akan membuka portal berita online yang sesuai dengan preferensiku seperti Kumparan, Tirto dan The Conversation untuk dalam negeri. Untuk berita luar negeri biasanya Huffington Post, New York Times atau BBC. Tenang, menyebutkan berbagai portal berita itu bukan cuma buat keren-kerenan kok, ada maksudnya hahaha. 

Pagi ini kumulai dengan membaca cerita tentang W.J.S Poerwadarminta di Tirto. Beliau adalah seorang ahli kamus, leksikograf. Awal kumulai baca seperti tidak asing dengan namanya, lalu kulanjutkan dengan mencari sumber gambar di Google dan betul, aku tidak asing dengan cover Kamus Umum Bahasa Indonesia terutama yang edisi ketiga terbitan Balai Pustaka. Kalau tidak salah dulu aku melihat kamus itu di perpustakaan umum daerah di kota tempat tinggalku, di Sragen tepatnya di ruang khusus yang banyak menyimpan ensiklopedia. 

Selain W.J.S Poerwadarminta seorang leksikograf lain yang terkenal adalah J.S Badudu. Mungkin nama ini tidak terlalu asing bagi anak jaman sekarang, terutama yang menyukai Banda Neira karena cucunya, Ananda Badudu adalah salah satu personilnya. Buku J.S Badudu yang berjudul Inilah Bahasa Indonesia Yang Benar terlihat lebih familiar lagi buatku. Tapi soal kontennya, aduh, jangan ditanya ya karena apa pun yang tersaring di otakku untuk hal yang baru saja terjadi saja aku bisa langsung lupa, apalagi yang sudah sangat lama. Biasanya yang akan pop-up di kepala hanyalah sepertinya aku familiar dengan nama itu, dan misalnya dikonfirmasi dengan gambar biasanya memorinya akan lebih banjir lagi, tapi jangan tanyakan detil. Karena itu mungkin sudah terkubur di di hippocampus. Berita yang baru saja kubaca bisa saja langsung lupa setelahnya. 

Jangan seperti aku yang terlalu mudah melupakan sesuatu (bukan disengaja) mungkin karena keterbatasan otakku memproses informasi. Tapi, jika kamu adalah orang-orang yang diberi kelebihan mampu mengingat banyak hal, tolong, masukkanlah W.J.S Poerwadarminta dan J.S Badudu di dalam memorimu. Karena beliau berdualah, begitu banyak kata-kata di semestamu bisa tercipta. Penciptaan yang pasti dimulai dengan pencatatan sampai akhirnya berkembang menjadi rutinitas dan budaya. 

Berdasarkan yang kubaca di Tirto, untuk menyusun Kamus Umum Bahasa Indonesia, W.J.S Poerwadarminta memerlukan waktu selama tujuh tahun untuk mengumpulkan semua kata-katanya. Dan berakhir menjadi magnum opus, karya besarnya. Tapi, jauh sebelum itu beliau sudah menjadi ahli perkamusan dengan membuat kamus bahasa jawa, bahasa belanda dan bahasa jepang. Tanpa bermaksud mengecilkan apa yang sudah beliau lalui selama hidupnya, jika ada satu hal yang harus kamu ingat adalah namanya dan sumbangsihnya yang luar biasa terhadap peradaban di Indonesia. Apa artinya dunia ini, dunia kita, tanpa kata-kata? 

Sejarah bahasa yang begitu panjang sampai tercipta bahasa indonesia dan menjadi alat komunikasi universal bagi kita. Sedihnya, bahkan namanya tidak pernah terdengar di pelajaran sejarah maupun bahasa indonesia. Padahal karyanya adalah magnum opus yang sepertinya dengan hati yang sangat lapang, beliau persembahkan untuk menjadi karya kita semua. Bisakah bukan hanya Sumpah Pemuda saja yang kita ingat? Saat mengingat bahwa bahasa persatuan adalah bahasa indonesia, tapi juga mengingat orang yang paling berjasa atas terciptanya penciptaan yang akan berusia seumur hidup negara ini berdiri. 

Kamus tidak akan pernah menjadi obituari. 

Semua orang memerlukan kamus. Secara langsung atau tidak langsung. Tetapi menggunakan kata-kata yang ada di dalam kamus adalah sebuah kepastian. Traveling, menulis buku, mengerjakan tugas, mengejar beasiswa, menulis pesan WhatsApp, nge-tweet, atau buat status galau sampai pidato presiden tidak akan lepas dari kata-kata. Tidak akan lepas dari inventaris dalam apa yang ada di dalam kamus. 

Jujur, bagiku bahwa ada kemungkinan telinga kita tidak pernah mendengar namanya, begitu membuatku sedih. Ketika kita, hari ini menikmati keagungan bahasa indonesia hari ini, adalah terjadi karena beliau berdua. By the way, kata obituari yang sudah biasa dipakai dalam mengabarkan berita duka saja tidak ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Mungkin karena itu kata serapan dari obituary.

Obituari J.S Badudu dan W.J.S Poerwadarminta mungkin sudah bertahun lalu, tapi biarlah mereka menjadi obituari yang hidup. 


Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Sudah terlalu lama blog ini terbengkalai bahkan sebelum banyak berisi cerita. Hari ini, tergerak untuk mendengarkan dan mengambil ilmu dari apa yang Mbak Windy Ariestanty sampaikan dalam workshop menulis yang saya syukuri karena bisa dilihat melalui website Narasi TV. 

Dan apa yang disampaikan oleh Mbak Windy selalu menakjubkan buat saya. Hampir tidak ada penyangkalan, selain perasaan mengamini. Sayang banget sama Mbak Windy yang sedemikian rupa ketika menceritakan, bahkan dalam sesi wokshop-pun yang dia sampaikan adalah menerapkan apa yang akan dia sampaikan, yaitu bercerita. 

Dalam workshop yang berjudul Give Your Story A Voice Mbak Windy menyampaikan bahwa seseorang bercerita itu adalah upaya-upaya untuk membangun empati. Dimulai dari pentingnya bercerita yang menurutnya adalah bahwa cerita berguna untuk memperpanjang ingatan tentang sesuatu. Kenapa pencatatan ini penting dikarenakan berhubungan dengan kepunahan. Langsung oleh Mbak Windy dimulai dengan cerita mengenai bukti-bukti peradaban di salah satu daerah di Pulau Maluku yaitu di Pulau Tanimbar Kei. Seorang antropolog Perancis konon menceritakan bahwa di Pulai Tanimbar Kei tidak ada yang mampu menjelaskan mengenai struktur bangunan rumah asli penduduk Kei dan juga tradisi budaya yang masih mereka lakukan hingga saat ini, selain apa yang mereka katakan, menurut nenek moyang mereka. Hal tersebut dikarenakan tidak ada pencatatan sama sekali mengenai kebudayaan Tanimbar Kei. Satu-satunya pencatatan yang ada adalah milik antropolog Perancis tadi dan dibawa pulang ke negaranya. 

Dari cerita tersebut Mbak Windy bilang bahwa pencatatan atau cerita menjadi penting untuk memperpanjang ingatan tentang sesuatu. Dikatakan oleh Mbak Windy, "Ingatan menjadi mudah untuk ditelusuri karena ada bukti dan kita menjadi tidak lupa."

Menyambung dari apa yang disampaikan oleh Mbak Windy, aku juga menyadari bahwa pentingnya pencatatan adalah agar kita tidak begitu mudah lupa untuk hal-hal yang sebenarnya penting, tapi karena kita menjalani dengan setengah hati atau tidak dalam kesadaran penuh, maka akan semudah itu lupa. Contohnya? Semua mata kuliah/pelajaran kita. Ketika tidak dibantu oleh pencatatan kita atau mendapat bukti-bukti tertulis maka sepertinya sedikit mustahil kita akan mengingat kembali ketika membutuhkan pengalaman atau pengetahuan tertentu. Bahkan, aku yang dulu suka mencatat berbagai hal di buku kecil ketika ditanya satu bagian saja yang pernah kutulis, maka hampir dimungkinkan aku sudah tidak mengingatnya. Tetapi ketika dirangsang dengan membaca pencatatan tersebut, aku bisa mengingat sedikit banyak pada momen apa aku mencacat hal tersebut. Dari pencatatan bisa meresonansi cerita yang ada. 

Poin kedua ketika ditanya apa pentingnya bercerita adalah menghubungkan manusia. Dicontohkan oleh Mbak Windy mengenai cerita John Hersey penulis Hiroshima bahwa dari cerita tersebut semua orang tergerak untuk berpikir dan berempati bahwa tidak ada sedikit pun keuntungan yang didapatkan dari perang. 

Cerita juga mampu membangun empati dari orang-orang yang membaca atau mendengar. Seperti halnya cerita-cerita personal di Instagram, Twitter (thread) yang mampu menggerakkan orang-orang untuk berempati, seperti memberika bantuan material atau berupa dukungan. Untuk poin ini, banyak sekali contohnya, bukan hanya kejadian dalam hitungan hari, bahkan bisa hitungan detik. Konten-konten berseliweran mengenai cerita individu, kelompok maupun kondisi-kondisi yang merangkum isu publik untuk membuat semua orang relate. Cerita pada intinya berbahan dasar 'manusia', maka dari itu yang akan dihasilkan adalah empati. 

Pencerita-pencerita (kita), penulis sedang bekerja untuk kemanusiaan. Kita sedang menyelamatkan kemanusiaan. 

Lebih lanjut Mbak Windy menyampaikan elemen penting dalam bercerita agar mampu membangun empati. Elemen pertama yang menurutnya penting adalah berbagi pengalaman. Ketika orang berbagi pengalaman, orang lain tidak ada yang keberatan untuk menyimak. Berbagi pengalaman adalah perjalanan paling autentik yang bisa menjadi kunci untuk membangun empati orang lain. Terlebih ketika apa yang dialami adalah hal-hal yang dekat kehidupan banyak orang seperti pengalaman menjadi ibu, pengalaman berjuang untuk beasiswa dan pengalaman liburan di daerah-daerah eksotis Indonesia dengan kekayaan alam dan kebudayaan yang indah. 

Cerita juga membuat kita tidak menyerah satu sama lain. Ketika apa yang baru saja terjadi pada republik ini ketika demonstrasi mahasiswa dengan tujuh tuntutan terhadap kinerja pemerintah menjadi aksi yang sangat akbar. Bahwa cerita bisa menjadi semangat kolektif untuk akhirnya bisa menggerakkan begitu banyak orang untuk memperjuangkan nasibnya. Bahwa perjuangan kolektif ini bukan perjuangan satu orang melainkan perjuangan seluruh warga negara untuk haknya. 

Cerita juga membuat manusia lebih peka. Dan ini sangat kuamini. Sudah tidak terhitung lagi cerita-cerita yang saya dengarkan dari teman, orang yang tanpa sengaja temui atau orang yang secara sengaja memang saya minta untuk cerita. Dari apa yang mereka ceritakan, membuat aku sebagai manusia lebih peka seperti mengerti perasaan oranglain tanpa harus mengalami apa yang orang tersebut alami. Cerita adalah pintu-pintu menuju sejarah-sejarah penting bagi manusia.

Cerita yang mempunyai kekuatan adalah cerita yang bisa membangkitkan empati, kemanusiaan dan memiliki nilai. Setuju kah kamu?

Jadi, apa cerita berharga yang pernah kamu dengar?

Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Sudah sekian lama dari terakhir nulis di blog. Bahkan terakhir masih di Tumblr. Entah kenapa juga tiba-tiba kepikiran mau lanjut ngeblog lagi (hahaha kesannya sok, padahal cuma ngoceh). Mungkin karena kepalaku lagi penuh akhir-akhir ini dan minta dikeluarin isinya. Jadi, akhirnya topik ini lah yang menjadi bahasan awal. Mengenai 'penulis'. Aku nggak tahu sebenarnya apakah sebenarnya aku sudah bisa dianggap sebagai penulis. Karena well, semuanya masih terasa abu-abu.

Jadi, puji syukur akhirnya aku bisa menerbitkan karya pertamaku yang berjudul Jarak Antarbintang. Buku ini diterbitkan oleh Elex Media Komputindo pada Mei 2018 lalu. Sampai hari ini berarti sudah hampir lima bulan lamanya. Apa rasanya? Tentu saja senang, walaupun masih banyak denial-nya. Wait, what? Denial? 




Yap, kamu nggak salah baca, kok hehe. Oke, aku akan mulai dari awal perjalanan cerita ini sampai akhirnya jadi novel (sekalian curhat!). Novel ini awalnya pertama kali aku tulis di platform kepenulisan namanya Wattpad. Aku tulis sejak Maret 2015 (well, sebenarnya dari Desember 2014 tapi hanya satu part dan nggak lanjut lagi sampai Maret). Aku sudah lupa apa yang benar-benar menggerakkan aku waktu itu. Yang jelas kalau di awal bulan Desember itu karena aku habis baca bukunya Paulo Coelho yang judulnya The Alchemist. Dan buku itu, surprisingly sangat mengerakkan aku. Aku lumayan suka membaca dari SD, dan banyak buku yang aku sukai juga. Tetapi, tidak banyak yang 'menggerakkan'. Pada saat Bulan Desember itu (hari hujan), aku berada di satu titik bahwa hidupku nggak pernah ada pencapaian apa pun. Bulan itu dan hari itu, tepat ulang tahunku yang ke-20. Usia yang (seharusnya) menjadi turning point dalam hidup karena peralihan dari masa remaja menuju masa dewasa.

Singkat cerita, aku mulai melanjutkan tulisan di pertengahan Maret karena Bulan Desember itu sedang sibuk-sibuknya menyiapkan proposal untuk Tugas Akhir. Jadi, aku baru mulai menulis lagi di Bulan Maret pada saat lagi gabut-gabutnya masa-masa PKL. Dan, entah kenapa saat itu rasanya aku seperti kerasukan sesuatu. Menulis dengan sangat intens dan progresif. Mungkin karena aku rindu kamarku (iya aku memang PKL di daerahku sendiri) dan banyak tumpukan buku di kamarku yang seolah mengintimidasi untuk semakin bersemangat (karena, ternyata keinginan memiliki buku sendiri itu nggak pernah padam--aku akan menceritakan lain kali tentang mimpi ini).

Novel yang awalnya aku beri judul I [Never] Give Up On You ini aku tulis dalam waktu kurang dari setahun. Dengan total awalnya 40 bab dengan jumlah halaman Ms Word A4 itu sekitar 600-an lebih. Gila! Kadang aku saja masih tidak menyangka orang yang tidak terlalu rajin sepertiku bisa menulis sebanyak itu (well, kecuali menulis laporan praktikum).

Aku sangat menyenangi bagaimana diriku seolah tertarik ke dunia lain ketika sedang menulis. Ekstase-ekstase yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Pada saat itu, hampir setiap hari aku mengunggah ceritaku setiap bab-nya. Dan hal yang menyenangkan lainnya adalah melihat dan mengetahui bahwa apa yang aku buat disukai orang lain. Entah kenapa, pada saat membaca semua komentar-komentar pembaca aku seolah menyadari bahwasanya tidak berlebihan apabila ada yang bilang bahwa menulis adalah bekerja untuk keajaiban. Setiap hari, setiap detik aku jadi begitu intens membuka dan membaca komentar-komentar di setiap bab ceritaku.

Di antara semua kegembiraan itu, ada satu hal yang ternyata aku lupa. Bahwa aku tidak memulai semua proses menulis itu dengan teknis yang benar. Mungkin bagi beberapa penulis juga mengalami hal yang sama ketika mereka menulis tanpa plot. Dan itu yang aku lakukan untuk Jarak Antarbintang. Kepalaku yang kosong dari pengetahuan tentang dunia tulis menulis hanya membuatku bermodal semangat. Sekali lagi puji syukur bahwa menurut banyak pembaca bahwa karakter yang aku ciptakan itu kuat. Juga universe yang mendukung dalam cerita itu (Astronomi dan Konservasi) membuat banyak orang akhirnya tergerak untuk memulai rasa penasarannya dengan dua hal itu.

Waktu berjalan sampai akhirnya ada masa di mana impian seorang penulis menjadi kenyataan: menerbitkan karyanya. Puji syukur ada yang mau melirik Jarak Antarbintang untuk diterbitkan secara mayor. Tidak ada yang lebih menggembirakan daripada itu. Semoga proses berjalan lancar sampai akhirnya cerita yang ditulis di 2015 tanpa banyak ekspektasi itu diterbitkan pada tahun 2018. Selang waktu 3 tahun yang sebenarnya merupakan jeda yang lama. Bukan hanya untuk karyanya, tetapi untuk penulis ini.

Ini lah titik di mana masa-masa denial itu dimulai.

Aku bercerita tentang hal ini bukan untuk mencari pembenaran atau pembelaan. Bukan sama sekali. Aku menulis ini murni karena ini berdamai dengan diriku sendiri. Di mana, pada banyak ocehanku di blog sebelum-sebelumnya bisa menjadi semacam pengingat bahwa aku sudah ada di fase yang berbeda dengan masa itu. Istilahnya: sudah berdamai dengan keadaan.

Dan denial itu terwujud dalam bentuk: rasa tidak layak. Aku tidak tahu apakah ini dialami oleh penulis lain di mana pada saat anak mereka lahir (buku) mereka akan mengalami hal yang sama. Rasa tidak layak itu karena ternyata cerita yang aku buat dan sunting sedemikian rupa (walaupun sudah banyak perbedaannya dari versi Wattpad dan versi cetak) tetapi tetap saja dari segi konten ada begitu banyak hal yang menurutku tidak pas porsinya. Aku tidak akan membicarakan tentang itu secara detail di sini. Mungkin akan aku bahas dalam tulisan yang lain. Intinya, bahwa dari segi konten, cerita Jarak Antarbintang itu masih banyak yang let say, aku sesali.

Mungkin akan terasa bodoh ketika penulisnya justru menjelek-jelekkan karyanya sendiri. Tidak sama sekali dan aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya masih bersedih bahwa seharusnya di beberapa bagian 'seharusnya' begini dan begitu. Aku juga ingin bilang wajar bahwa karya pertama masih banyak yang perlu diperbaiki, memang. Aku hanya menyesalkan kenapa kurun waktu tiga tahun itu aku tidak benar-benar merekonstruksi ulang apa yang sebenanrnya ingin aku sampaikan dari cerita itu. Perjalanan tiga tahun sebelum cerita itu terbit ternyata membawa bias-bias tersendiri yang seharusnya tidak aku turuti.

Dan sekarang di saat aku harus berhadapan dengan orang-orang yang puji syukur menyukai karya itu, aku harus menekan ego untuk bilang bahwa 'karya itu masih belum layak diapresiasi dengan cara itu.' Aku hanya harus menjawab terima kasih (dan memang aku sangat berterima kasih atas segala apresiasi) dan bukan malah menolaknya. Meskipun hatiku sendiri bilang ada ketidaklayakan itu.

Setelah berjalan beberapa bulan di pasaran, aku yang seharusnya masih ikut aktif dalam promosi ternyata mengalami burn out (selain karena tuntutan pekerjaan yang sedang tinggi sehingga membuat sosial media jarang terpegang). Burn out yang aku rasakan adalah rasa sedih berkepanjangan dan rasa tidak layak yang semakin kentara dari hari ke hari. Bahkan burn out itu yang membuatku bahwa belum berani membaca karyaku sendiri (anakku sendiri) dari pertama kali terbit.

Dari begitu banyak orang yang mengapresiasi baik, aku sangat berterima kasih. Aku tidak tahu apakah menghilang sejenak dari rutinitas promosi itu merupakan langkah yang bijak, tetapi setidaknya aku ingin bisa membuat diriku lebih stabil dulu untuk apa pun kedepannya nanti. Dan, ketika ada beberapa orang yang bisa dibilang memberikan rating rendah untuk Jarak Antarbintang di Goodreads, aku tidak tahu kenapa justru rasanya sangat lega. Meskipun pada awalnya aku hanya tersenyum tipis, tapi perlahan ulasan (yang aku amini) itu bisa membawaku pada kelegaan tersendiri. Aku tidak tahu apakah ada orang yang begitu menyukai dan mnengharapkan kritik, tetapi aku begitu. Kritik adalah cara yang aku tahu saat ini untuk membantuku berdamai bahwa karya pertamaku juga masih begitu banyak kekurangan.

Hingga saat ini aku juga masih mencari-cari formula untuk menulis lebih baik lagi. Setidaknya menulis dengan penuh kesadaran. 

Mungkin denial ini bermula karena aku terlalu senang menyakiti diri sendiri. Aku juga tidak tahu. Seorang teman bilang bahwa aku hanya perlu bersyukur dan mengingat kembali tentang visi menjadi penulis. Aku bukanya tidak paham konsep bersyukur, dan aku juga bukannya tidak bersyukur. Tidak sama sekali. Tetapi, rasa-rasa seperti ini ternyata begitu susah dikontrol sehingga penyelesaian terbaik yang bisa aku pikirkan adalah menghindar sejenak. Sambil terus belajar dan mengisi kepalaku dengan hal-hal lainnya.

Saat ini, perlahan aku mulai bisa berdamai (semoga). Bahwa apa pun itu bentuk karyanya tidak untuk disesali tetapi untuk membersamai proses pendewasaan. Mungkin Jarak Antarbintang adalah fase-fase diriku menjadi remaja akhir. Dan aku belum berhasil membangun jembatan untuk dia lewati sehingga bisa melalui 2018. Dan aku hanya harus menerima itu. Dan tentu saja, terus berproses untuk kedepannya nanti.

Hei, walaupun begitu aku tetap berharap kalian beli bukuku ya hahahaha :)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Nauraini

Foto saya
Nauraini
Confirmed INFP's
Lihat profil lengkapku

about Nauraini

Hola! Welcome to Nauraini's blog (or rant platform). Nau is an INFP who obsessed with art, minimalism and writing. You can discussed with Nau about :
communication, movie, music and writing.
At this time, Nau already published her first novel Jarak Antarbintang (2018, Elex Media Komputindo). You can connect with Nau through her Wattpad, Twitter, Instagram. Nau very fond of friends, so :)

Nau's Instagram

@nauraini

Get in touch with Nauraini

  • LinkedIn
  • Spotify
  • Goodreads
  • twitter
  • instagram
  • youtube

Categories

  • Book
  • Human
  • INFP
  • Indonesia
  • Podcast
  • Reading
  • Self Reflection
  • Writing

Blog Archive

  • Desember 2020 (1)
  • Maret 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • November 2019 (2)
  • Oktober 2018 (1)
  • Juni 2018 (9)

Nau's On Going Story

Nau's bookshelf: read

Parijs van Java: Darah, Keringat, Air mata
really liked it
Parijs van Java: Darah, Keringat, Air mata
by Remy Sylado
Pride and Prejudice
liked it
Pride and Prejudice
by Jane Austen
The Nose
it was amazing
The Nose
by Nikolai Gogol
A Portrait of the Artist as a Young Man
it was amazing
A Portrait of the Artist as a Young Man
by James Joyce
Ulysses
it was amazing
Ulysses
by James Joyce

goodreads.com

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates