• Home
  • Thoughts
  • Writing
  • Journey
  • Inspiration
  • Portfolio
Pinterest Instagram Twitter Facebook Email

Naimmah Nur Aini

Sudah terlalu lama blog ini terbengkalai bahkan sebelum banyak berisi cerita. Hari ini, tergerak untuk mendengarkan dan mengambil ilmu dari apa yang Mbak Windy Ariestanty sampaikan dalam workshop menulis yang saya syukuri karena bisa dilihat melalui website Narasi TV. 

Dan apa yang disampaikan oleh Mbak Windy selalu menakjubkan buat saya. Hampir tidak ada penyangkalan, selain perasaan mengamini. Sayang banget sama Mbak Windy yang sedemikian rupa ketika menceritakan, bahkan dalam sesi wokshop-pun yang dia sampaikan adalah menerapkan apa yang akan dia sampaikan, yaitu bercerita. 

Dalam workshop yang berjudul Give Your Story A Voice Mbak Windy menyampaikan bahwa seseorang bercerita itu adalah upaya-upaya untuk membangun empati. Dimulai dari pentingnya bercerita yang menurutnya adalah bahwa cerita berguna untuk memperpanjang ingatan tentang sesuatu. Kenapa pencatatan ini penting dikarenakan berhubungan dengan kepunahan. Langsung oleh Mbak Windy dimulai dengan cerita mengenai bukti-bukti peradaban di salah satu daerah di Pulau Maluku yaitu di Pulau Tanimbar Kei. Seorang antropolog Perancis konon menceritakan bahwa di Pulai Tanimbar Kei tidak ada yang mampu menjelaskan mengenai struktur bangunan rumah asli penduduk Kei dan juga tradisi budaya yang masih mereka lakukan hingga saat ini, selain apa yang mereka katakan, menurut nenek moyang mereka. Hal tersebut dikarenakan tidak ada pencatatan sama sekali mengenai kebudayaan Tanimbar Kei. Satu-satunya pencatatan yang ada adalah milik antropolog Perancis tadi dan dibawa pulang ke negaranya. 

Dari cerita tersebut Mbak Windy bilang bahwa pencatatan atau cerita menjadi penting untuk memperpanjang ingatan tentang sesuatu. Dikatakan oleh Mbak Windy, "Ingatan menjadi mudah untuk ditelusuri karena ada bukti dan kita menjadi tidak lupa."

Menyambung dari apa yang disampaikan oleh Mbak Windy, aku juga menyadari bahwa pentingnya pencatatan adalah agar kita tidak begitu mudah lupa untuk hal-hal yang sebenarnya penting, tapi karena kita menjalani dengan setengah hati atau tidak dalam kesadaran penuh, maka akan semudah itu lupa. Contohnya? Semua mata kuliah/pelajaran kita. Ketika tidak dibantu oleh pencatatan kita atau mendapat bukti-bukti tertulis maka sepertinya sedikit mustahil kita akan mengingat kembali ketika membutuhkan pengalaman atau pengetahuan tertentu. Bahkan, aku yang dulu suka mencatat berbagai hal di buku kecil ketika ditanya satu bagian saja yang pernah kutulis, maka hampir dimungkinkan aku sudah tidak mengingatnya. Tetapi ketika dirangsang dengan membaca pencatatan tersebut, aku bisa mengingat sedikit banyak pada momen apa aku mencacat hal tersebut. Dari pencatatan bisa meresonansi cerita yang ada. 

Poin kedua ketika ditanya apa pentingnya bercerita adalah menghubungkan manusia. Dicontohkan oleh Mbak Windy mengenai cerita John Hersey penulis Hiroshima bahwa dari cerita tersebut semua orang tergerak untuk berpikir dan berempati bahwa tidak ada sedikit pun keuntungan yang didapatkan dari perang. 

Cerita juga mampu membangun empati dari orang-orang yang membaca atau mendengar. Seperti halnya cerita-cerita personal di Instagram, Twitter (thread) yang mampu menggerakkan orang-orang untuk berempati, seperti memberika bantuan material atau berupa dukungan. Untuk poin ini, banyak sekali contohnya, bukan hanya kejadian dalam hitungan hari, bahkan bisa hitungan detik. Konten-konten berseliweran mengenai cerita individu, kelompok maupun kondisi-kondisi yang merangkum isu publik untuk membuat semua orang relate. Cerita pada intinya berbahan dasar 'manusia', maka dari itu yang akan dihasilkan adalah empati. 

Pencerita-pencerita (kita), penulis sedang bekerja untuk kemanusiaan. Kita sedang menyelamatkan kemanusiaan. 

Lebih lanjut Mbak Windy menyampaikan elemen penting dalam bercerita agar mampu membangun empati. Elemen pertama yang menurutnya penting adalah berbagi pengalaman. Ketika orang berbagi pengalaman, orang lain tidak ada yang keberatan untuk menyimak. Berbagi pengalaman adalah perjalanan paling autentik yang bisa menjadi kunci untuk membangun empati orang lain. Terlebih ketika apa yang dialami adalah hal-hal yang dekat kehidupan banyak orang seperti pengalaman menjadi ibu, pengalaman berjuang untuk beasiswa dan pengalaman liburan di daerah-daerah eksotis Indonesia dengan kekayaan alam dan kebudayaan yang indah. 

Cerita juga membuat kita tidak menyerah satu sama lain. Ketika apa yang baru saja terjadi pada republik ini ketika demonstrasi mahasiswa dengan tujuh tuntutan terhadap kinerja pemerintah menjadi aksi yang sangat akbar. Bahwa cerita bisa menjadi semangat kolektif untuk akhirnya bisa menggerakkan begitu banyak orang untuk memperjuangkan nasibnya. Bahwa perjuangan kolektif ini bukan perjuangan satu orang melainkan perjuangan seluruh warga negara untuk haknya. 

Cerita juga membuat manusia lebih peka. Dan ini sangat kuamini. Sudah tidak terhitung lagi cerita-cerita yang saya dengarkan dari teman, orang yang tanpa sengaja temui atau orang yang secara sengaja memang saya minta untuk cerita. Dari apa yang mereka ceritakan, membuat aku sebagai manusia lebih peka seperti mengerti perasaan oranglain tanpa harus mengalami apa yang orang tersebut alami. Cerita adalah pintu-pintu menuju sejarah-sejarah penting bagi manusia.

Cerita yang mempunyai kekuatan adalah cerita yang bisa membangkitkan empati, kemanusiaan dan memiliki nilai. Setuju kah kamu?

Jadi, apa cerita berharga yang pernah kamu dengar?

Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Sudah sekian lama dari terakhir nulis di blog. Bahkan terakhir masih di Tumblr. Entah kenapa juga tiba-tiba kepikiran mau lanjut ngeblog lagi (hahaha kesannya sok, padahal cuma ngoceh). Mungkin karena kepalaku lagi penuh akhir-akhir ini dan minta dikeluarin isinya. Jadi, akhirnya topik ini lah yang menjadi bahasan awal. Mengenai 'penulis'. Aku nggak tahu sebenarnya apakah sebenarnya aku sudah bisa dianggap sebagai penulis. Karena well, semuanya masih terasa abu-abu.

Jadi, puji syukur akhirnya aku bisa menerbitkan karya pertamaku yang berjudul Jarak Antarbintang. Buku ini diterbitkan oleh Elex Media Komputindo pada Mei 2018 lalu. Sampai hari ini berarti sudah hampir lima bulan lamanya. Apa rasanya? Tentu saja senang, walaupun masih banyak denial-nya. Wait, what? Denial? 




Yap, kamu nggak salah baca, kok hehe. Oke, aku akan mulai dari awal perjalanan cerita ini sampai akhirnya jadi novel (sekalian curhat!). Novel ini awalnya pertama kali aku tulis di platform kepenulisan namanya Wattpad. Aku tulis sejak Maret 2015 (well, sebenarnya dari Desember 2014 tapi hanya satu part dan nggak lanjut lagi sampai Maret). Aku sudah lupa apa yang benar-benar menggerakkan aku waktu itu. Yang jelas kalau di awal bulan Desember itu karena aku habis baca bukunya Paulo Coelho yang judulnya The Alchemist. Dan buku itu, surprisingly sangat mengerakkan aku. Aku lumayan suka membaca dari SD, dan banyak buku yang aku sukai juga. Tetapi, tidak banyak yang 'menggerakkan'. Pada saat Bulan Desember itu (hari hujan), aku berada di satu titik bahwa hidupku nggak pernah ada pencapaian apa pun. Bulan itu dan hari itu, tepat ulang tahunku yang ke-20. Usia yang (seharusnya) menjadi turning point dalam hidup karena peralihan dari masa remaja menuju masa dewasa.

Singkat cerita, aku mulai melanjutkan tulisan di pertengahan Maret karena Bulan Desember itu sedang sibuk-sibuknya menyiapkan proposal untuk Tugas Akhir. Jadi, aku baru mulai menulis lagi di Bulan Maret pada saat lagi gabut-gabutnya masa-masa PKL. Dan, entah kenapa saat itu rasanya aku seperti kerasukan sesuatu. Menulis dengan sangat intens dan progresif. Mungkin karena aku rindu kamarku (iya aku memang PKL di daerahku sendiri) dan banyak tumpukan buku di kamarku yang seolah mengintimidasi untuk semakin bersemangat (karena, ternyata keinginan memiliki buku sendiri itu nggak pernah padam--aku akan menceritakan lain kali tentang mimpi ini).

Novel yang awalnya aku beri judul I [Never] Give Up On You ini aku tulis dalam waktu kurang dari setahun. Dengan total awalnya 40 bab dengan jumlah halaman Ms Word A4 itu sekitar 600-an lebih. Gila! Kadang aku saja masih tidak menyangka orang yang tidak terlalu rajin sepertiku bisa menulis sebanyak itu (well, kecuali menulis laporan praktikum).

Aku sangat menyenangi bagaimana diriku seolah tertarik ke dunia lain ketika sedang menulis. Ekstase-ekstase yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Pada saat itu, hampir setiap hari aku mengunggah ceritaku setiap bab-nya. Dan hal yang menyenangkan lainnya adalah melihat dan mengetahui bahwa apa yang aku buat disukai orang lain. Entah kenapa, pada saat membaca semua komentar-komentar pembaca aku seolah menyadari bahwasanya tidak berlebihan apabila ada yang bilang bahwa menulis adalah bekerja untuk keajaiban. Setiap hari, setiap detik aku jadi begitu intens membuka dan membaca komentar-komentar di setiap bab ceritaku.

Di antara semua kegembiraan itu, ada satu hal yang ternyata aku lupa. Bahwa aku tidak memulai semua proses menulis itu dengan teknis yang benar. Mungkin bagi beberapa penulis juga mengalami hal yang sama ketika mereka menulis tanpa plot. Dan itu yang aku lakukan untuk Jarak Antarbintang. Kepalaku yang kosong dari pengetahuan tentang dunia tulis menulis hanya membuatku bermodal semangat. Sekali lagi puji syukur bahwa menurut banyak pembaca bahwa karakter yang aku ciptakan itu kuat. Juga universe yang mendukung dalam cerita itu (Astronomi dan Konservasi) membuat banyak orang akhirnya tergerak untuk memulai rasa penasarannya dengan dua hal itu.

Waktu berjalan sampai akhirnya ada masa di mana impian seorang penulis menjadi kenyataan: menerbitkan karyanya. Puji syukur ada yang mau melirik Jarak Antarbintang untuk diterbitkan secara mayor. Tidak ada yang lebih menggembirakan daripada itu. Semoga proses berjalan lancar sampai akhirnya cerita yang ditulis di 2015 tanpa banyak ekspektasi itu diterbitkan pada tahun 2018. Selang waktu 3 tahun yang sebenarnya merupakan jeda yang lama. Bukan hanya untuk karyanya, tetapi untuk penulis ini.

Ini lah titik di mana masa-masa denial itu dimulai.

Aku bercerita tentang hal ini bukan untuk mencari pembenaran atau pembelaan. Bukan sama sekali. Aku menulis ini murni karena ini berdamai dengan diriku sendiri. Di mana, pada banyak ocehanku di blog sebelum-sebelumnya bisa menjadi semacam pengingat bahwa aku sudah ada di fase yang berbeda dengan masa itu. Istilahnya: sudah berdamai dengan keadaan.

Dan denial itu terwujud dalam bentuk: rasa tidak layak. Aku tidak tahu apakah ini dialami oleh penulis lain di mana pada saat anak mereka lahir (buku) mereka akan mengalami hal yang sama. Rasa tidak layak itu karena ternyata cerita yang aku buat dan sunting sedemikian rupa (walaupun sudah banyak perbedaannya dari versi Wattpad dan versi cetak) tetapi tetap saja dari segi konten ada begitu banyak hal yang menurutku tidak pas porsinya. Aku tidak akan membicarakan tentang itu secara detail di sini. Mungkin akan aku bahas dalam tulisan yang lain. Intinya, bahwa dari segi konten, cerita Jarak Antarbintang itu masih banyak yang let say, aku sesali.

Mungkin akan terasa bodoh ketika penulisnya justru menjelek-jelekkan karyanya sendiri. Tidak sama sekali dan aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya masih bersedih bahwa seharusnya di beberapa bagian 'seharusnya' begini dan begitu. Aku juga ingin bilang wajar bahwa karya pertama masih banyak yang perlu diperbaiki, memang. Aku hanya menyesalkan kenapa kurun waktu tiga tahun itu aku tidak benar-benar merekonstruksi ulang apa yang sebenanrnya ingin aku sampaikan dari cerita itu. Perjalanan tiga tahun sebelum cerita itu terbit ternyata membawa bias-bias tersendiri yang seharusnya tidak aku turuti.

Dan sekarang di saat aku harus berhadapan dengan orang-orang yang puji syukur menyukai karya itu, aku harus menekan ego untuk bilang bahwa 'karya itu masih belum layak diapresiasi dengan cara itu.' Aku hanya harus menjawab terima kasih (dan memang aku sangat berterima kasih atas segala apresiasi) dan bukan malah menolaknya. Meskipun hatiku sendiri bilang ada ketidaklayakan itu.

Setelah berjalan beberapa bulan di pasaran, aku yang seharusnya masih ikut aktif dalam promosi ternyata mengalami burn out (selain karena tuntutan pekerjaan yang sedang tinggi sehingga membuat sosial media jarang terpegang). Burn out yang aku rasakan adalah rasa sedih berkepanjangan dan rasa tidak layak yang semakin kentara dari hari ke hari. Bahkan burn out itu yang membuatku bahwa belum berani membaca karyaku sendiri (anakku sendiri) dari pertama kali terbit.

Dari begitu banyak orang yang mengapresiasi baik, aku sangat berterima kasih. Aku tidak tahu apakah menghilang sejenak dari rutinitas promosi itu merupakan langkah yang bijak, tetapi setidaknya aku ingin bisa membuat diriku lebih stabil dulu untuk apa pun kedepannya nanti. Dan, ketika ada beberapa orang yang bisa dibilang memberikan rating rendah untuk Jarak Antarbintang di Goodreads, aku tidak tahu kenapa justru rasanya sangat lega. Meskipun pada awalnya aku hanya tersenyum tipis, tapi perlahan ulasan (yang aku amini) itu bisa membawaku pada kelegaan tersendiri. Aku tidak tahu apakah ada orang yang begitu menyukai dan mnengharapkan kritik, tetapi aku begitu. Kritik adalah cara yang aku tahu saat ini untuk membantuku berdamai bahwa karya pertamaku juga masih begitu banyak kekurangan.

Hingga saat ini aku juga masih mencari-cari formula untuk menulis lebih baik lagi. Setidaknya menulis dengan penuh kesadaran. 

Mungkin denial ini bermula karena aku terlalu senang menyakiti diri sendiri. Aku juga tidak tahu. Seorang teman bilang bahwa aku hanya perlu bersyukur dan mengingat kembali tentang visi menjadi penulis. Aku bukanya tidak paham konsep bersyukur, dan aku juga bukannya tidak bersyukur. Tidak sama sekali. Tetapi, rasa-rasa seperti ini ternyata begitu susah dikontrol sehingga penyelesaian terbaik yang bisa aku pikirkan adalah menghindar sejenak. Sambil terus belajar dan mengisi kepalaku dengan hal-hal lainnya.

Saat ini, perlahan aku mulai bisa berdamai (semoga). Bahwa apa pun itu bentuk karyanya tidak untuk disesali tetapi untuk membersamai proses pendewasaan. Mungkin Jarak Antarbintang adalah fase-fase diriku menjadi remaja akhir. Dan aku belum berhasil membangun jembatan untuk dia lewati sehingga bisa melalui 2018. Dan aku hanya harus menerima itu. Dan tentu saja, terus berproses untuk kedepannya nanti.

Hei, walaupun begitu aku tetap berharap kalian beli bukuku ya hahahaha :)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sebagai seorang penulis, sebenarnya aku tidak terlalu paham mengenai bagaimana kondisi minat baca di Indonesia. Mungkin kalau merujuk pada sepinya perpustakaan, hasil-hasil riset yang akhirnya menjadi bungkus gorengan, diktat mata pelajaran yang tidak pernah dibuka. Karena mungkin kondisi di sekitarku sebenarnya masih efektif karena masih ada saja yang membaca dengan intens. Well, walaupun itu sebenarnya juga tuntutan pekerjaan. Tapi asumsi awam juga bakal nunjukin itu sih dengan melihat betapa sepinya perpustakaan. Toko buku untungnya masih ramai. Entah kenapa rasanya segitu susahnya menumbuhkan rasa cinta akan ilmu pengetahuan. Padahal kalau mereka rajin baca kan secuil pun nggak ada ruginya. Malah keuntungannya bisa berkelanjutan untuk dirinya sendiri terlebih untuk orang lain kedepannya. Karena ilmu juga nggak akan pernah habis. 

Cerita dipersingkat dengan adanya diversifikasi produk untuk mengakses ilmu pengetahuan. Sampai sekarang masih banyak sih penggalangan buku untuk berbagai perpustakaan di daerah-daerah. Itu adalah sesuatu yang sangat positif dan sangat perlu membuka akses semua orang akan ilmu pengetahuan atau pendidikan. Aku nggak ngerti ya hitung-hitungan secara sistematis, tapi di kepalaku muncul pop up bahwa seharusnya akses itu dibarengi dengan akses teknologi. 

Kenapa teknologi begitu penting? Ya sekarang jamannya internet. Dan dunia dalam kurun waktu sepuluh tahun saja sudah berubah sangat drastis. Apa ada jaminan bahwa buku yang didistribusikan ke daerah-daerah itu masih relevan? Bukannya mau bilang bahwa ilmu itu akan sia-sia, bukan. Tapi perlu ilmu yang mutakhir dan terkini juga karena yang akan dihadapi oleh banyak orang adalah masa mendatang, bukan masa lalu. 

Dengan teknologi, akses ilmu pengetahuan akan langsung bisa dikonfirmasi apakah masih relevan atau tidak. Contoh dari akses terhadap ilmu pengetahuan adalah adanya perpustaan digital. Kalau tidak salah di Indonesia diinisiasi oleh Pemerintah Jakarta dengan mengeluarkan aplikasi bernama iJakarta. Di iJakarta terdapat begitu banyak buku dari berbagai katagori seperti Sejarah, Agama, Filsafat, Fiksi, BSE dsb dan semuanya gratis. Hal tersebut adalah transformasi yang sangat positif bagi dunia pendidikan. Tapi sayangnya gaung iJakarta ini masih belum terdengar secara luas. Selain itu secara teknis juga masih perlu banyak pembenahan. iJakarta ini secara positif juga memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara memberikan ruang kepada penerbit-penerbit untuk memberikan akses ebook-nya di Jakarta yang mana orang lain juga dapat mendonasikan untuk setiap buku yang ada di sana. Sehingga bisa menjadi bagian dari royalti untuk penulis. Secara detailnya mengenai iJakarta aku juga kurang paham. Tapi yang jelas bahwa iJakarta mestinya dibawa ke ranah yang lebih luas dengan akses yang tidak terbatas.

Selain tentang iJakarta, yang ingin kutulis di sini adalah tentang Audiobook. Audiobook adalah rekaman dari isi buku yang dapat diakses melalui perangkat audio. Sudah lumayan lama aku mendengarkan audiobook dari berbagai cerita. Yang terkenal dan sering didengar adalah Kindle dari Amazon. Tapi tentu saja itu berbayar. Kabar baiknya, ada audiobook yang bisa diakses secara gratis. Namanya adalah LibriVox. Librivox adalah free public domain audiobook. Di dalamnya banyak sekali audiobook dari buku akademik, biografim sejarah, filosofi maupun cerita fiksi yang terkenal dari William Shakespeare, James Joice, Helen Keller, Kate Chopin, Eleanor Gates dan masih banyak lagi. Dan semuanya bisa diunduh secara gratis. Audiobook di Librivox direkam oleh para volunter dan dapat diakses oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun. Sangat amat super keren! 

Tentang audiobook ini, aku sangat berharap bahwa Indonesia mulai berpikir sevisioner ini untuk menambah akses terhadap ilmu pengetahuan semakin mudah. Dan semuanya bisa dimulai dengan mempersiapkan teknologi yang layak. Karena tidak ada yang lupa bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa adalah tugas dari negara.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Bagi seorang introvert menemukan zona nyaman tidak lah sulit. Yang sulit adalah beranjak di saat zona nyaman itu semakin menenggelamkan dalam paradigma ‘kesendirian’ seorang introvert. Karena seharusnya zona nyaman itu bukan tempat persembunyian tetapi tempat peristirahatan. Istirahat selalu berasosiasi dengan pemulihan energi. Persembunyian berkorelasi dengan kepengecutan dari hal yang tidak berani dihadapi.

Sebagai seorang INFP, aku juga merasakan zona nyaman itu terlalu sulit untuk disingkirkan dan hanya menjadi peranjakan sementara. Bukan yang mempunyai tali kekang sampai akhirnya tidak kemana-mana. Aku tidak tahu bagiku zona nyaman itu kamar, sendiri atau tidak melakukan apa-apa. Semuanya sama mengkhawatirkannya. Kalau diminta untuk memilih aku ingin memilih sendiri di tempat yang jauh. Karena dengan berjalan setidaknya indera yang dimiliki akan berfungsi.

Jadi apakah zona nyaman bisa diubah tanpa perlu pemaksaan yang berlebihan karena tujuannya bukan ingin keluar dari zona nyaman tetapi berganti zona nyaman?

Berandai-andai memiliki tempat atau rutinitas yang tepat guna dan dijadikan zona nyaman versi utopisku adalah sesederhana berjalan. Sendirian. Memproses segala sesuatu yang tidak berjalan baik di hari kemarin dan merenungkan segalanya. Mencurahkan waktu sepenuhnya untuk diri sendiri. Karena kalau hal semasif kepribadian saja fluid, bagaimana dengan isi kepala? Yang berisi neuron yang sedia menghantarkan rangsang dari semua hal yang dirasa, dilihat, diraba, dikecap, didengar.
Satu hal lainnya yang kuidamkan dan ingin dijadikan candu dan kusebut sebagai zona nyaman adalah menulis. Berkolaborasi dengan pergi dibersamai oleh memikirkan apa perlu dipikirkan, sekembalinya aku ingin menuliskan. Apapun. Dan untuk satu hal ini, aku tidak akan pernah bosan untuk mendobrak zona nyaman. Kalau itu sudah jadi zona nyaman.

Sampai sekarang kasur dan tidur masih terlalu sulit untuk dienyahkan. Atau kesendirian itu sendiri yang pada kenyataannya telah mengalami pemaknaan yang keliru karena terlalu sering dilakukan berulang-ulang?

Nyatanya seorang INFP yang ingin punya persona Ekstrovert ini susah sekali untuk sekedar menciptakan humor untuk hidupnya sendiri. Konsistensi yang tidak konstruktif.
Zona nyaman, inginku pergi dan menulis, lalu konsisten dan berhasil menyembuhkan atau melahirkan.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Nauraini

Foto saya
Nauraini
Confirmed INFP's
Lihat profil lengkapku

about Nauraini

Hola! Welcome to Nauraini's blog (or rant platform). Nau is an INFP who obsessed with art, minimalism and writing. You can discussed with Nau about :
communication, movie, music and writing.
At this time, Nau already published her first novel Jarak Antarbintang (2018, Elex Media Komputindo). You can connect with Nau through her Wattpad, Twitter, Instagram. Nau very fond of friends, so :)

Nau's Instagram

@nauraini

Get in touch with Nauraini

  • LinkedIn
  • Spotify
  • Goodreads
  • twitter
  • instagram
  • youtube

Categories

  • Book
  • Human
  • INFP
  • Indonesia
  • Podcast
  • Reading
  • Self Reflection
  • Writing

Blog Archive

  • Desember 2020 (1)
  • Maret 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • November 2019 (2)
  • Oktober 2018 (1)
  • Juni 2018 (9)

Nau's On Going Story

Nau's bookshelf: read

Parijs van Java: Darah, Keringat, Air mata
really liked it
Parijs van Java: Darah, Keringat, Air mata
by Remy Sylado
Pride and Prejudice
liked it
Pride and Prejudice
by Jane Austen
The Nose
it was amazing
The Nose
by Nikolai Gogol
A Portrait of the Artist as a Young Man
it was amazing
A Portrait of the Artist as a Young Man
by James Joyce
Ulysses
it was amazing
Ulysses
by James Joyce

goodreads.com

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates