• Home
  • Thoughts
  • Writing
  • Journey
  • Inspiration
  • Portfolio
Pinterest Instagram Twitter Facebook Email

Naimmah Nur Aini

Jika tidak ada catatan yang tanpa sengaja kujadikan sebagai highlight di Instagram tentang film-film dan serial yang sudah kutonton selama 2020, sepertinya akan lebih banyak lagi memori yang melesat tanpa sempat mampir lebih lama. Memang, bahwa sosial media pun bisa menjadi pengingat momen-momen apa saja yang sudah kita lalui sepanjang tahun, lewat history. Jika screen time di ponsel bisa lebih representatif merekap penggunaan ponsel selama satu tahun, maka dapat dipastikan bahwa waktu-waktu berharga untuk pengembangan diri sudah beralih medium. Kutebak, kemungkinan waktu-waktu yang akan muncul di ponselku adalah Instagram, YouTube, Netflix dan Spotify. Dan jujur untuk medium-medium yang kusebutkan di atas, aku tidak pernah menyesal menghabiskan waktu di sana. 

Aku bisa memastikan, betapa pun asyiknya scrolling untuk memberi makan rasa iri atas kehidupan oranglain di Instagram, tak pernah lebih lama daripada mendengarkan orang-orang yang menyimpan video live-nya tentang banyak hal yang berguna. Meskipun scrolling menjadi begitu menyenangkan, tapi kesadaran diri lumayan cepat mengambil alih dan membisiki, "Mending waktunya dipake buat nonton film daripada scroll Instagram." Dan begitulah siklus-siklus yang terjadi di tahun 2020. Tanpa mengecilkan sama sekali apa yang tengah terjadi di dunia ini, mode introvert-ku sejujurnya senang ketika aku lebih banyak menyendiri selama PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Tapi pun aku sadar bahwa yang paling menikmatinya adalah otak malasku dan dengan tidak adanya pressure yang positif, aku akan stagnan. Dan pressure positif itu selama ini banyak dipantik dari luar yang akhirnya memantikku untuk bergerak. 

Semua orang memiliki milestone dalam keterbatasan yang terjadi di 2020. Dan aku mengirikan orang-orang yang secara sporadis muncul dengan berbagai kemampuannya untuk survive dengan menjadi entrepreneur dadakan. Sungguh menyenangkan dan mengharukan sekali melihat orang-orang yang begitu kreatifnya mencipta sesuatu dan tidak tunduk menyesali situasi yang terjadi tidak hanya pada satu individu, tapi pada setiap individu di seluruh dunia. 

Dan untuk Tuhan yang sedang menunjukkan kuasanya entah atas kesalahan manusia yang mana, atau untuk memberikan peringatan, kuhanya memohon untuk memberikan tempat terbaik bagi orang-orang baik yang pergi karena COVID-19 ini, dan memberikan kekuatan pada keluarga yang ditinggalkannya. Dan memberikan kekuatan serta mengangkat derajat para pejuang medis yang terikat sumpah untuk tetap berada di garis terdepan. Serta menjaga manusia-manusia yang harus keluar untuk memanjangkan hidup setiap harinya. Serta memberikan kekuatan. 

Entah apakah waktu memang sudah memiliki kekuatan memanipulasi manusia sehingga bulan-bulan berjalan dengan rasa yang terlalu sulit untuk diregulasi, terutama bagi mereka-mereka yang kehilangan. Sejak Maret dan segalanya menjadi besar dalam sekejab, di detik ini, belum pula ada tanda-tanda berakhir ketika perlahan orang-orang mulai mematikan rasa takut yang berbulan sebelumnya merajai amygdala-nya. Entah perlahan amygdala menyempit atau, ignorance, letaknya di otak sebelah mana?

Mungkin pun aku yang secara sadar harus mengakhiri rasa takut dengan kembali bekerja dan beraktivitas seperti biasa. Terkadang ego dan lalai memainkan peran, tapi setelahnya mengutuki diri sendiri karena tanpa sengaja menjadi ignorance. Dan ketika tidak punya kendali untuk memilih, maka tetap harus mengingatkan diri sendiri untuk menjaga kesehatan dan memanjangkan empati. 

Kembali pada perjalanan 2020 untukku sendiri. Masih diisi dengan banyak menghabiskan waktu di depan layar Netflix, karena menurutku menonton film atau serial adalah perjalanan spiritual yang baru. Aku percaya bahwa tidak ada satu pun karya yang tidak bisa diambil apa makna di baliknya. Meskipun aku tahu preferensi yang kusuka, dan makin ke sini makin selektif, tapi sesekali mencoba untuk men-challenge diri sendiri (bahkan seremeh bahan tontonan) untuk memberi ruang pada perspektif. Mengapa suka dan tidak suka. 

Selain di film, pekerjaan pun masih tetap jalan karena ternyata dengan work from home (WFH) pun pekerjaan juga bisa efektif dikerjakan. Meskipun ada tantangan-tantangan tersendiri, terutama di industriku, creative agency ketika produksi perlu supervisi untuk memastikan cerita berjalan sesuai board. Cerita tentang dunia pekerjaan yang juga baru bagiku ini akan kuceritakan lain waktu. 

Selain film dan pekerjaan, hari-hariku diisi dengan memasak ketika WFH. Akhirnya aku menyentuh dapur! Dengan alasan keparnoan, layanan pesan antar yang sempat vakum beberapa waktu, dan hemat, mau tidak mau salah satu cara survive dengan layak adalah dengan memasak makanan sendiri. Dan aku mengapresiasi diriku akan hal itu. Dan aku berterima kasih pada diriku, pada teman-temanku yang berlomba-lomba laporan apa yang dimasak setiap harinya. Motivasi yang menyenangkan. Dan memasak, kurasakan adalah self healing yang sangat efektif. Mau sesederhana apa pun prosesnya. Meskipun pada akhirnya terjadi kemunduran ketika semua sudah 'normal' kembali pun, tetap perlu diapresiasi. 

Di awal pandemi, aku menyelesaikan beberapa course dan banyak mengisi hari-hari dengan konten-konten minimalism. Yang sebenarnya semakin kesini semakin kontradiktif dengan prakteknya karena masih terjebak konsumtif yang sungguh menjengkelkan. Padahal secara sadar siklus setan itu selalu berakhir dengan merutuki diri sendiri. Manusia dan ego 'merasa kurang' ini memang harus sesegera mungkin diregulasi. Konten-konten lain yang mengisi hari-hariku adalah tentang finansial, mindfulness, dekorasi kamar, memasak dan copywriting. Dan akhir-akhir ini adalah konten personal development yang lumayan menjadi life transforming. 

2020 berjalan untukku dengan perpindahan tempat tinggal, BSD. Dengan momen-momen kesadaran tapi tetap masih suka merasa heran, ternyata sudah hampir setengah tahun aku berada di kota ini. Kutilik pada emosiku, aku lebih suka kota ini dari sebelumnya. Tempat kerjaku yang lebih menyejukkan mata karena banyak yang hijau-hijau dan langit biru juga patut disyukuri. Kondisi mentalku kurasakan lebih stabil. 

Membicarakan titik balik

Sebagai self proclaimed esoteric wayfarer, segala hal yang kurasakan menjadi sebuah titik balik adalah perubahan yang dimulai dari dalam diriku. Secara habit tidak banyak yang berubah secara signifikan. Secara mental aku merasakan sebuah titik balik meskipun aku masih belum bisa mengukur, apakah itu masih ada di tatanan konsep atau sudah menjadi mindset baru. Mental yang mengamini bahwa tidak semua hal bisa kita kontrol dan pelan-pelan memahami itu membuat diri jauh lebih tenang. Dan pelan-pelan menyadari bahwa ketenangan itu tidak selalu berbanding terbalik dengan keresahan. 

Dan ketika lebih jauh memahami bahwa keresahan (anxiety) itu tidak akan pernah hilang, tetapi bisa diajak berdamai dengan kita sering melatih diri kita untuk 'bernafas.' Sekarang rasanya ketika menghadapi sesuatu dan membentur tembok, aku akan kembali menanyakan ke diriku, "Ini sesuatu yang bisa kamu kontrol apa nggak? Kalau nggak bisa kamu kontrol, berarti let go." Dan ketika kamu semakin resah dengan mempertanyakan, "MAUNYA JUGA GITU TAPI SUSAH MAU LET GO! GIMANA DONG?" Pertama, tarik nafas :). 

Seperti halnya ketika ingin mempelajari skill baru kita harus intens berlatih, begitu pun dengan let go, perlu dilatih. Yang kulakukan adalah aku mengamini/mengafirmasi terlebih dahulu jika hal itu meresahkanku dan aku mengafirmasi segala keresahan atau bahkan ketakutan itu. Aku tidak menyuruh diam keresahan itu. Lalu setelahnya aku akan melakukan dialog dengan diriku sendiri, literally that loud, tentang hal yang harus aku lepaskan karena tidak bisa kukontrol. Contoh percakapannya adalah seperti ini: 

Aku: "Sumpah ya kesel banget gue sama itu orang. Kenapa sih pikirannya jelek banget, padahal kan gue nggak maksud begitu."
Aku: "Oke, Nai. Apa yang lo rasain sekarang? 
Aku: "Kesel banget sumpah! Pengen marah rasanya!"
Aku: "Oke, Nai. Lo lagi marah."
Aku: "Gue pusing banget sih, kok ada ya orang begitu?" 
Aku: "Oke, Nai."
Aku: "Iya! Selama ini juga orang struggle banget kan deket sama dia. Capek hati!" 
Aku: "Oke, Nai. Apa yang lo rasain valid."
Aku: "Gue harus gimana dong?"
Aku: "Apa yang menurut lo bisa lo lakukan?"
Aku: "Gue bakalan step back?"
Aku: "Are you feeling peace with that option?
Aku: "Gue mikir sih yang gue rasain ketika berhadapan sama dia selalu begini dan perasaan gue valid. But then, biasanya semua baik-baik aja sih. Semacam kesel sesaat gitu."
Aku: "Iya, Nai. Your feeling is valid." 
Aku: "Dan gue kok lebih nggak lega buat step back? Tapi gue nggak bisa juga diginiin terus sama dia."
Aku: "Jadi gimana Nai, hal yang menurut lo akan membuat lo peace?"
Aku: "Antara yaudah biarin waktu berjalan aja, dan kayaknya kalau ada kejadian kayak gini lagi gue cuma perlu mikir kalau emang udah sifat dia begitu dan yang bisa gue lakuin adalah nafas dulu biar nggak senggol bacok, menyelesaikan pergulatan yang ada di kepala gue, memvalidasi emosi yang gue rasain dan efeknya ke badan gue ketika gue marah. Habis itu gue akan berpikir langkah selanjutnya either biarin aja berlalu atau yaudah kalem aja. Itu sih yang bisa gue kontrol."
Aku: "Thank you myself for sitting here with me and processing all this with me." 

In the end cara itu efektif buatku untuk meregulasi segala hal yang aku rasakan. Rasanya lebih damai ketika mampu berbicara dengan diri sendiri, memvalidasi apa yang dirasakan tanpa judgemental, melabeli apa yang sedang dirasakan dan sepenuhnya menyadari keputusan apa yang akan diambil selanjutnya. Menurutku itu adalah titik balik yang menyenangkan untuk kudapatkan. Mindfulness adalah nama dari semua proses itu. Dan ada di titik memahami bahwa tidak semua hal bisa kita kontrol itu rasanya menyenangkan. 

Titik balik selanjutnya masih dalam topik mengenali diri sendiri adalah dengan lebih memahami tentang intention dari semua hal yang kulakukan. Apa pun. Apa sebenarnya niatku ketika melakukan satu hal. Aku mengamini dan coba meresonansi bahwa niatku adalah ini dan aku tidak menghakimi niat tersebut. 

Hal baik lainnya yang kurasakan dan perlu kuapresiasi adalah semangat untuk belajar beberapa hal. Bahkan ada di satu titik menyadari bahwa aku nggak bisa memproses segala informasi untuk masuk ke kepalaku. Jadi ketika aku tahu bahwa yang kumau adalah satu hal, aku akan coba fokus di situ dan memberikan perhatian penuh atau fokus ketika mempelajari satu ilmu tersebut. Menjadi generalis tidak salah, tapi menyadari kapasitas diri sendiri untuk tetap memberikan prioritas. Dan yang terpenting dari proses belajar adalah transformasi, yaitu mempraktekkan apa yang telah dipelajari. Aku cukup senang menemukan metode belajar yang menurutku efektif dengan memproses pelan-pelan dan memaksimalkan semua indera. Tugasku sekarang adalah mentransformasikan semua hal yang kupelajari agar lebih applicable. 

Ketika dirunut berbagai kejadian, ternyata banyak hal juga yang bisa aku recall ketika membicarakan 2020. Ini sih nggak jadi kaleidoskop, tapi emang curhat ya wkwkwk. Karena aku baru belajar untuk mengutamakan diriku sesuai intention, maka biarlah tulisan ini begini adanya. Tapi, aku punya beberapa hal yang ingin aku bagi untuk tulisan ke depan yang masih berkaitan dengan ceritaku ini. Diantaranya adalah: 

1. Cara belajar yang efektif menurutku
2. Chanel-chanel yang berguna dalam proses belajar
3. Mindfulness journey
4. Writing and Copywriting 

Semoga hal-hal yang aku niatkan untuk aku bagi ini kedepannya bisa lebih berguna. 

Dan selamat menutup cerita di 2020 dengan apa pun perjalanan yang kamu punya. Semoga pandemi segera berlalu. Semoga kita sehat fisik, mental dan pikiran. Dan semoga 2021 menjadi tahun yang lebih bermakna dan dijalani dengan penuh kesadaran. 

Adios, 2020. 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Pagi ini entah kenapa aku terpikir tentang pertanyaan, "Bagaimana aku tahu bahwa yang aku lakukan itu benar?" Tentang apa yang benar untuk dilakukan ini bukan hanya tentang pekerjaan, jurusan kuliah yang sedang kita jalani, hobi yang kita tekuni, tetapi mencakup segala hal yang melibatkan kita sebagai manusia, baik untuk diri sendiri maupun ketika menjalani peran sebagai makhluk sosial. 

Pertanyaan yang bahkan dengan satu indikator pun rasanya tadi tidak terpikirkan jawabannya sama sekali. Sampai pada akhirnya ketika di kantor, aku mencoba mencari jawabannya dan ada satu artikel panjang yang cukup menjawab pertanyaanku, walaupun secara spesifik aku juga tidak bisa mengutarakan dengan tepat masing-masing experience yang pernah aku alami untuk mengklaim bahwa di satu poin tertentu aku berhasil melaluinya atau punya mindset seperti itu. Atau mungkin mengetahui apa yang sudah benar dilakukan cukup dirasakan dengan hati? 

Tapi berhubung aku orangnya ngeyelan, maka cobalah kucari tahu hal konkret sebagai bahan konfirmasi. 

Ditemani lagu Honne, dan menganggap James Hatcher mirip Joshua Millburn-nya The Minimalist, here we go. 

1. Dapat merasakan bahwa apa yang kamu lakukan adalah hal yang benar dan itu dibuktikan dengan kamu merasa senang melakukannya

Dari poin satu ini sepertinya tidak ada hal yang bisa dibantah selain mengamini. Benar bahwa ketika mempertanyakan apa yang benar untuk dilakukan bisa dimulai dengan menanyakan ke diri kita sendiri bagaimana perasaan kita tentang apa yang sedang kita kerjakan. Sebagai contoh untuk mengonfirmasi pesan ini adalah aku suka sekali nonton Netflix atau film bagus yang bertema misteri, politik maupun kriminal. 

Ketika waktu banyak kuhabiskan untuk menonton serial atau film, aku tidak akan merasa bersalah pada diriku. Karena menurutku waktu yang kuinvestasikan untuk sebuah film atau serial adalah hal yang menyenangkan sekaligus upaya untuk belajar lebih banyak hal seperti universe-universe yang terbangun di dalamnya, pendalaman karakter, budaya, musik dan berbagai hal lain sebagaimana sebuah film seharusnya memainkan perannya, untuk memberikan hiburan itu utama, dan dampak ikutan seperti memberikan informasi atau kritik sosial. Dan banyak hal lain yang menyenangkan untuk kulakukan seperti menonton YouTube, polanya dan sensasi menyenangkannya sama ketika menonton serial/film. 

2. Ketika kamu terus melakukan sesuatu bahkan ketika tidak bisa menjelaskan kenapa kamu begitu menyukai melakukannya

Mungkin poin yang ini bisa didebat, tapi aku masih setuju. Pun mungkin jawabannya hanya sesimpel preferensi. Dan tidak ada yang salah ketika berhubungan dengan preferensi atau selera pribadi, bahkan untuk hal yang tidak bisa dijelaskan seperti suka melihat video treatment yang dilakukan dokter kulit ketika mengeluarkan komedo dari hidung pasiennya. Dan... itu aku hahaha. Walaupun bagi sebagian orang itu menjijikkan, aku tetap suka melihatnya. Tapi dalam skala yang lebih serius sepertinya untuk kasusku adalah decluttering.

Beberapa waktu ini aku lagi suka-sukanya dengan konten-konten minimalism, yang seringkali di dalamnya ada konten mengenail decluttering. Walaupun dari apa yang kudapatkan dari melihat semua hal tentang minimalism, belum banyak yang kupraktekkan, tapi aku suka sekali melihatnya. Bahkan terus-menerus aku menantang diriku untuk segera mengikuti tips yang sangat bisa kulakukan, tapi persentasenya masih kecil. Dan untuk kasus minimalism ini, terjadi dua paradoks yang sulit kubantah, ketika begitu sukanya aku dengan konten minimalism, ada hasrat yang begitu besar juga untuk terus-terusan belanja terutama skincare dan baju-baju berwarna monokrom. 

Walaupun untuk beberapa barang aku sudah tidak punya keterikatan emosi dan begitu mudah untuk decluttering, tapi dari kasus yang sama masih susah untuk menahan hasrat belanja untuk berang-barang tertentu. Tapi ini super tertentu aja, so I still appreciate myself for that. Karena pelan-pelan aku sudah mulai aware tentang barang-barang yang perlu kubeli atau tidak. Untuk paradoks di atas, aku bahkan tidak bisa menjelaskannya tetapi aku suka melakukannya. 

3. Kamu sudah berdamai dengan segala sesuatu yang terjadi di masa lalu

Poin ini menurutku sangat tepat dan begitu berdampak untukku pribadi. Aku adalah orang yang terlalu overthinking untuk segala hal yang sudah terjadi dan belum terjadi. Pikiranku terlalu rajin berkelana untuk melintasi batas ruang dan waktu hanya untuk membuatku pada akhirnya merasa resah, bersalah dan marah. Sebagai INFP, aku mengakui bahwa hidup di saat ini, kini begitu sulit untuk dilakukan. Itulah salah satu hal yang mendorongku untuk melakukan meditasi, sehingga berharap bisa lebih mindful dalam menjalani hidup. Bahasan mengenai meditasi dan mindful ini akan aku bahas di lain waktu. 

Waktu itu di Twitter aku sempat menulis tentang Alexithymia yang merupakan gangguan psikologis ketika kita tidak bisa mendeskripsikan emosi dan perasaan yang kita alami secara verbal. Dan, belum berdamai dengan masa lalu menurutku erat kaitannya dengan itu. Sempat kupikir apakah konsep berdamai dengan masa lalu adalah abu-abu, dan seorang teman bilang bahwa tidak. Berdamai dengan masa lalu bukan hanya sekedar konsep apalagi abu-abu. Bahwa kelegaan atau legowo yang dia bilang pasti bisa kita rasakan. Sebagai bukti bahwa kita sudah berdamai dengan masalalu dan melakukan hal yang tepat. 

4. Orang meluangkan waktu untukmu

No complaints about this. Menurutku ketika aku, kamu, kita sudah melakukan sesuatu yang benar, baik atau bahkan perbuatan tanpa label yang berarti bagi oranglain, menginvestasikan cinta melalui medium apa pun, entah dimaksudkan secara sengaja atau tidak, berdampak langsung maka sudah menjadi hukum alam rasanya bahwa cinta tersebut akan berbalas dengan sama besarnya atau bahkan dari orang yang tak diduga-duga berbondong-bondong meluangkan waktu untukmu. Dalam skala kecil, mungkin teman, keluarga, kolega. Dalam skala besar, kamu mungkin saja menjadi imam yang dipuja-puja dan diikuti titahnya. 

5. Kamu menyayangi dan menjaga dirimu

Belakangan, konsep self love sedang marak disuarakan seiring dengan orang-orang mulai sadar tentang kesehatan mental. Ada begitu banyak cara yang secara sederhana bisa dilakukan untuk menginvestasikan cinta untuk diri sendiri. Baik aktivitas fisik maupun psikologis banyak yang memiliki dampak positif untuk cinta diri ini. Dan, sekali lagi tidak ada komplain tentang poin yang ini. Hal yang paling benar untuk dilakukan ketika kamu mempertanyakan berbagai hal lain yang mungkin masih jadi pertanyaan besar, tetapi cinta diri ini harus menjadi hal konkret yang dilakukan. 

Implementasi cinta diri mungkin berbeda bagi setiap orang. Tapi tujuannya untuk kesehatan dan kebahagiaan sehingga bisa mencapai kesejahteraan.

--

Postingan ini akan berlanjut ke bagian dua. 

Sumber: Thought Catalog
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Sudah sekian lama dari terakhir nulis di blog. Bahkan terakhir masih di Tumblr. Entah kenapa juga tiba-tiba kepikiran mau lanjut ngeblog lagi (hahaha kesannya sok, padahal cuma ngoceh). Mungkin karena kepalaku lagi penuh akhir-akhir ini dan minta dikeluarin isinya. Jadi, akhirnya topik ini lah yang menjadi bahasan awal. Mengenai 'penulis'. Aku nggak tahu sebenarnya apakah sebenarnya aku sudah bisa dianggap sebagai penulis. Karena well, semuanya masih terasa abu-abu.

Jadi, puji syukur akhirnya aku bisa menerbitkan karya pertamaku yang berjudul Jarak Antarbintang. Buku ini diterbitkan oleh Elex Media Komputindo pada Mei 2018 lalu. Sampai hari ini berarti sudah hampir lima bulan lamanya. Apa rasanya? Tentu saja senang, walaupun masih banyak denial-nya. Wait, what? Denial? 




Yap, kamu nggak salah baca, kok hehe. Oke, aku akan mulai dari awal perjalanan cerita ini sampai akhirnya jadi novel (sekalian curhat!). Novel ini awalnya pertama kali aku tulis di platform kepenulisan namanya Wattpad. Aku tulis sejak Maret 2015 (well, sebenarnya dari Desember 2014 tapi hanya satu part dan nggak lanjut lagi sampai Maret). Aku sudah lupa apa yang benar-benar menggerakkan aku waktu itu. Yang jelas kalau di awal bulan Desember itu karena aku habis baca bukunya Paulo Coelho yang judulnya The Alchemist. Dan buku itu, surprisingly sangat mengerakkan aku. Aku lumayan suka membaca dari SD, dan banyak buku yang aku sukai juga. Tetapi, tidak banyak yang 'menggerakkan'. Pada saat Bulan Desember itu (hari hujan), aku berada di satu titik bahwa hidupku nggak pernah ada pencapaian apa pun. Bulan itu dan hari itu, tepat ulang tahunku yang ke-20. Usia yang (seharusnya) menjadi turning point dalam hidup karena peralihan dari masa remaja menuju masa dewasa.

Singkat cerita, aku mulai melanjutkan tulisan di pertengahan Maret karena Bulan Desember itu sedang sibuk-sibuknya menyiapkan proposal untuk Tugas Akhir. Jadi, aku baru mulai menulis lagi di Bulan Maret pada saat lagi gabut-gabutnya masa-masa PKL. Dan, entah kenapa saat itu rasanya aku seperti kerasukan sesuatu. Menulis dengan sangat intens dan progresif. Mungkin karena aku rindu kamarku (iya aku memang PKL di daerahku sendiri) dan banyak tumpukan buku di kamarku yang seolah mengintimidasi untuk semakin bersemangat (karena, ternyata keinginan memiliki buku sendiri itu nggak pernah padam--aku akan menceritakan lain kali tentang mimpi ini).

Novel yang awalnya aku beri judul I [Never] Give Up On You ini aku tulis dalam waktu kurang dari setahun. Dengan total awalnya 40 bab dengan jumlah halaman Ms Word A4 itu sekitar 600-an lebih. Gila! Kadang aku saja masih tidak menyangka orang yang tidak terlalu rajin sepertiku bisa menulis sebanyak itu (well, kecuali menulis laporan praktikum).

Aku sangat menyenangi bagaimana diriku seolah tertarik ke dunia lain ketika sedang menulis. Ekstase-ekstase yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Pada saat itu, hampir setiap hari aku mengunggah ceritaku setiap bab-nya. Dan hal yang menyenangkan lainnya adalah melihat dan mengetahui bahwa apa yang aku buat disukai orang lain. Entah kenapa, pada saat membaca semua komentar-komentar pembaca aku seolah menyadari bahwasanya tidak berlebihan apabila ada yang bilang bahwa menulis adalah bekerja untuk keajaiban. Setiap hari, setiap detik aku jadi begitu intens membuka dan membaca komentar-komentar di setiap bab ceritaku.

Di antara semua kegembiraan itu, ada satu hal yang ternyata aku lupa. Bahwa aku tidak memulai semua proses menulis itu dengan teknis yang benar. Mungkin bagi beberapa penulis juga mengalami hal yang sama ketika mereka menulis tanpa plot. Dan itu yang aku lakukan untuk Jarak Antarbintang. Kepalaku yang kosong dari pengetahuan tentang dunia tulis menulis hanya membuatku bermodal semangat. Sekali lagi puji syukur bahwa menurut banyak pembaca bahwa karakter yang aku ciptakan itu kuat. Juga universe yang mendukung dalam cerita itu (Astronomi dan Konservasi) membuat banyak orang akhirnya tergerak untuk memulai rasa penasarannya dengan dua hal itu.

Waktu berjalan sampai akhirnya ada masa di mana impian seorang penulis menjadi kenyataan: menerbitkan karyanya. Puji syukur ada yang mau melirik Jarak Antarbintang untuk diterbitkan secara mayor. Tidak ada yang lebih menggembirakan daripada itu. Semoga proses berjalan lancar sampai akhirnya cerita yang ditulis di 2015 tanpa banyak ekspektasi itu diterbitkan pada tahun 2018. Selang waktu 3 tahun yang sebenarnya merupakan jeda yang lama. Bukan hanya untuk karyanya, tetapi untuk penulis ini.

Ini lah titik di mana masa-masa denial itu dimulai.

Aku bercerita tentang hal ini bukan untuk mencari pembenaran atau pembelaan. Bukan sama sekali. Aku menulis ini murni karena ini berdamai dengan diriku sendiri. Di mana, pada banyak ocehanku di blog sebelum-sebelumnya bisa menjadi semacam pengingat bahwa aku sudah ada di fase yang berbeda dengan masa itu. Istilahnya: sudah berdamai dengan keadaan.

Dan denial itu terwujud dalam bentuk: rasa tidak layak. Aku tidak tahu apakah ini dialami oleh penulis lain di mana pada saat anak mereka lahir (buku) mereka akan mengalami hal yang sama. Rasa tidak layak itu karena ternyata cerita yang aku buat dan sunting sedemikian rupa (walaupun sudah banyak perbedaannya dari versi Wattpad dan versi cetak) tetapi tetap saja dari segi konten ada begitu banyak hal yang menurutku tidak pas porsinya. Aku tidak akan membicarakan tentang itu secara detail di sini. Mungkin akan aku bahas dalam tulisan yang lain. Intinya, bahwa dari segi konten, cerita Jarak Antarbintang itu masih banyak yang let say, aku sesali.

Mungkin akan terasa bodoh ketika penulisnya justru menjelek-jelekkan karyanya sendiri. Tidak sama sekali dan aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya masih bersedih bahwa seharusnya di beberapa bagian 'seharusnya' begini dan begitu. Aku juga ingin bilang wajar bahwa karya pertama masih banyak yang perlu diperbaiki, memang. Aku hanya menyesalkan kenapa kurun waktu tiga tahun itu aku tidak benar-benar merekonstruksi ulang apa yang sebenanrnya ingin aku sampaikan dari cerita itu. Perjalanan tiga tahun sebelum cerita itu terbit ternyata membawa bias-bias tersendiri yang seharusnya tidak aku turuti.

Dan sekarang di saat aku harus berhadapan dengan orang-orang yang puji syukur menyukai karya itu, aku harus menekan ego untuk bilang bahwa 'karya itu masih belum layak diapresiasi dengan cara itu.' Aku hanya harus menjawab terima kasih (dan memang aku sangat berterima kasih atas segala apresiasi) dan bukan malah menolaknya. Meskipun hatiku sendiri bilang ada ketidaklayakan itu.

Setelah berjalan beberapa bulan di pasaran, aku yang seharusnya masih ikut aktif dalam promosi ternyata mengalami burn out (selain karena tuntutan pekerjaan yang sedang tinggi sehingga membuat sosial media jarang terpegang). Burn out yang aku rasakan adalah rasa sedih berkepanjangan dan rasa tidak layak yang semakin kentara dari hari ke hari. Bahkan burn out itu yang membuatku bahwa belum berani membaca karyaku sendiri (anakku sendiri) dari pertama kali terbit.

Dari begitu banyak orang yang mengapresiasi baik, aku sangat berterima kasih. Aku tidak tahu apakah menghilang sejenak dari rutinitas promosi itu merupakan langkah yang bijak, tetapi setidaknya aku ingin bisa membuat diriku lebih stabil dulu untuk apa pun kedepannya nanti. Dan, ketika ada beberapa orang yang bisa dibilang memberikan rating rendah untuk Jarak Antarbintang di Goodreads, aku tidak tahu kenapa justru rasanya sangat lega. Meskipun pada awalnya aku hanya tersenyum tipis, tapi perlahan ulasan (yang aku amini) itu bisa membawaku pada kelegaan tersendiri. Aku tidak tahu apakah ada orang yang begitu menyukai dan mnengharapkan kritik, tetapi aku begitu. Kritik adalah cara yang aku tahu saat ini untuk membantuku berdamai bahwa karya pertamaku juga masih begitu banyak kekurangan.

Hingga saat ini aku juga masih mencari-cari formula untuk menulis lebih baik lagi. Setidaknya menulis dengan penuh kesadaran. 

Mungkin denial ini bermula karena aku terlalu senang menyakiti diri sendiri. Aku juga tidak tahu. Seorang teman bilang bahwa aku hanya perlu bersyukur dan mengingat kembali tentang visi menjadi penulis. Aku bukanya tidak paham konsep bersyukur, dan aku juga bukannya tidak bersyukur. Tidak sama sekali. Tetapi, rasa-rasa seperti ini ternyata begitu susah dikontrol sehingga penyelesaian terbaik yang bisa aku pikirkan adalah menghindar sejenak. Sambil terus belajar dan mengisi kepalaku dengan hal-hal lainnya.

Saat ini, perlahan aku mulai bisa berdamai (semoga). Bahwa apa pun itu bentuk karyanya tidak untuk disesali tetapi untuk membersamai proses pendewasaan. Mungkin Jarak Antarbintang adalah fase-fase diriku menjadi remaja akhir. Dan aku belum berhasil membangun jembatan untuk dia lewati sehingga bisa melalui 2018. Dan aku hanya harus menerima itu. Dan tentu saja, terus berproses untuk kedepannya nanti.

Hei, walaupun begitu aku tetap berharap kalian beli bukuku ya hahahaha :)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Aku sedang senang mendengarkan podcast akhir-akhir ini. Sempat terpikir untuk membuat konten yang sama karena so for terlalu banyak suara-suara yang tertahan dari orang-orang yang memiliki pikiran terbuka dan visioner. Belakangan, kembali banyak hal-hal tidak penting yang justru menjadi topik yang diangkat berulang-ulang.

Salah satu yang menarik perhatianku dari pembicaraan di salah satu podcast adalah tentang keegoisan berkarya. Man, emang ya manusia di mana-mana itu selalu diikuti sama egosentrisnya. Mau lo pengikut setia Hierarki Maslow atau penolak habis-habisan karena hidup tidak cuma tentang afeksi. Terserahlah. Intinya bukan itu, intinya di sini adalah bahwa dalam menciptakan sebuah karya perlu diikuti dengan keegoisan bahwa value yang akan lo sampaikan itu memang harus tersampaikan.
Berbagai motif orang yang menjadi kreator-kreator konten positif (negatif juga) atau cuma sekedar penyedia layanan untuk memberikan sebutlah pencerahan. Dari mereka-mereka itu harus memegang egoisme.

Mungkin maksudnya adalah idealisme?

Bukan, bukan. Kreator mungkin tidak perlu melibatkan terlalu jauh kehidupan pribadinya dalam karya yang dia buat (secara idealisme adalah representasi general sekaligus privat dari diri seseorang, menurutku). Dia bisa menyinkronisasi dengan apapun, entah itu common knowledge atau hal-hal logis yang sebenarnya cukup mudah tetapi orang perlu bertanya dulu untuk disadarkan. Dan kenapa mereka perlu egois adalah masalah teritori dan pertanggungjawaban.

Science yang menyediakan placeholder untuk orang mau menerima atau tidak mungkin tidak sebanding jika dikomparasi dengan konten yang coba disampaikan oleh kreator tersebut. Tetapi, membicarakan diri manusia yang terbatas atas ruang dan waktu maka seseorang (as a creator) perlu menjadi egois untuk mempertahankan value yang coba dia sampaikan. Seorang kreator tidak seharusnya goyah akan hal-hal yang tidak prinsipil. Kalau kedepannya ada perubahan dalam konten yang disajikan pun, itu hanya akan dinilai bukan sebuah inkonsistensi tapi orang tersebut berkembang.

Aku rasa semua orang punya prinsip (terlebih yang menamakan dirinya adalah seorang kreator) dan perlunya bersikap egois adalah karena dia membawa pesan khusus yang berharap nantinya akan dijalankan oleh orang yang menikmati kontennya. Terlepas dari baik dan buruk penerimaan orang lain, seorang kreator juga membawa sebuah tanggungjawab dari dampak yang mungkin ditimbulkan. Oleh karenanya dengan sikap egois itu banyak feedback juga yang akan dia terima. Boundaries dia akan semakin terlihat bahwa oh ini impact gue dari konten yang gue sajikan. Dan egois juga berkaitan dengan fabricated bahwa pikiran yang dia punya harus mendunia. Egois membawa lo tetap dalam jalur yang sesuai. Bahwa pikiran lo itu menarik dan dunia perlu tahu. Dan itu adalah hasil yang positif dari sebuah egoisme.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
I don’t do research or just simply search for something destructive. Cause my life so much full of something that i doesn’t know yet. Too precious to taking care of people thinking mostly in negativity verbs. And I won’t let my self to refused all things about thinking of that. Just say that that my tips to control my self never thinking back negativity.

Too much transformation in people life. Everything heck happen to our life, just make sure that you taking full of responsibility. And no one doesn’t know and can’t rate you low. So much hatred happen lately because of social standard that you live in. People just forget that you have your own life to live. In order you doesn’t disturb and disadvantageous people in personal tho, you good and fine.
Mostly i’m thinking why people can’t live with purity constructive themselves and respect for the others? Like who are you rightful to judge someone you doesn’t know? Even you’re people closed, you not justified to do that. One thing you can do is give them constructive suggestions. Not suddenly judging and spread hatred. People, still human have heart inside. It can hurt by just one word.
Like stop being judge people especially in their personal life. If you so much care, ask them and then give them some suggestion. If you stop or continuing your judging, you get nothing except an other hatred. Maybe quote from Pramoedya can related with this situation, “Be fair since your mind.”
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Bagi seorang introvert menemukan zona nyaman tidak lah sulit. Yang sulit adalah beranjak di saat zona nyaman itu semakin menenggelamkan dalam paradigma ‘kesendirian’ seorang introvert. Karena seharusnya zona nyaman itu bukan tempat persembunyian tetapi tempat peristirahatan. Istirahat selalu berasosiasi dengan pemulihan energi. Persembunyian berkorelasi dengan kepengecutan dari hal yang tidak berani dihadapi.

Sebagai seorang INFP, aku juga merasakan zona nyaman itu terlalu sulit untuk disingkirkan dan hanya menjadi peranjakan sementara. Bukan yang mempunyai tali kekang sampai akhirnya tidak kemana-mana. Aku tidak tahu bagiku zona nyaman itu kamar, sendiri atau tidak melakukan apa-apa. Semuanya sama mengkhawatirkannya. Kalau diminta untuk memilih aku ingin memilih sendiri di tempat yang jauh. Karena dengan berjalan setidaknya indera yang dimiliki akan berfungsi.

Jadi apakah zona nyaman bisa diubah tanpa perlu pemaksaan yang berlebihan karena tujuannya bukan ingin keluar dari zona nyaman tetapi berganti zona nyaman?

Berandai-andai memiliki tempat atau rutinitas yang tepat guna dan dijadikan zona nyaman versi utopisku adalah sesederhana berjalan. Sendirian. Memproses segala sesuatu yang tidak berjalan baik di hari kemarin dan merenungkan segalanya. Mencurahkan waktu sepenuhnya untuk diri sendiri. Karena kalau hal semasif kepribadian saja fluid, bagaimana dengan isi kepala? Yang berisi neuron yang sedia menghantarkan rangsang dari semua hal yang dirasa, dilihat, diraba, dikecap, didengar.
Satu hal lainnya yang kuidamkan dan ingin dijadikan candu dan kusebut sebagai zona nyaman adalah menulis. Berkolaborasi dengan pergi dibersamai oleh memikirkan apa perlu dipikirkan, sekembalinya aku ingin menuliskan. Apapun. Dan untuk satu hal ini, aku tidak akan pernah bosan untuk mendobrak zona nyaman. Kalau itu sudah jadi zona nyaman.

Sampai sekarang kasur dan tidur masih terlalu sulit untuk dienyahkan. Atau kesendirian itu sendiri yang pada kenyataannya telah mengalami pemaknaan yang keliru karena terlalu sering dilakukan berulang-ulang?

Nyatanya seorang INFP yang ingin punya persona Ekstrovert ini susah sekali untuk sekedar menciptakan humor untuk hidupnya sendiri. Konsistensi yang tidak konstruktif.
Zona nyaman, inginku pergi dan menulis, lalu konsisten dan berhasil menyembuhkan atau melahirkan.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Millenials, entah dalam konotasi yang negatif atau positif tapi memiliki jalur kehidupan yang memang unik. Ada yang hidup untuk mencari eksistensi dan pengakuan dan ada yang hidup untuk egois saja, memikirkan celah sekecil mungkin untuk bisa memberi egonya makan tanpa harus nampak di permukaan.

Ada satu pola yang terlihat bagi ‘sesungguhnya’ mayoritas millenials (yang kuikuti) bahwa tidak ada ketertarikan membagi lebih apa yang seharusnya bisa bermanfaat. Seolah membagi yang berbeda akan menghadirkan cibiran orang. Lalu mereka yang sebetulnya luar biasa bersinar justru tidak pernah repot menampakkan betapa pribadinya sungguh cerdas dari pikir dan polahnya. Hanya ada sesembahan artifisial yang berlomba-lomba diperlihatkan.

Justru yang menghadirkan hal yang bermanfaat bukan dari orang yang benar kita butuhkan ilmunya. Terkadang yang menunjukkan sesuatu yang bermanfaat adalah orang yang menurut pandangan kita berada jauh di atas level kita. Sampai perlu mendongak untuk coba mengkhayalkan atau mengangankan ada di posisi itu. Dan permasalahan yang terjadi selanjutnya adalah orang-orang pada level tertentu ini mencoba mengimitasi sesuatu yang tidak menjadi kesehariannya tetapi yang mereka lupa itu adalah pekerjaan orang yang berada di level atas. Tanpa sadar setiap hari yang dilakulan oleh manusia-manusia ini adalah mendongak.

Di saat mulai lelah dengan manusia artifisial ini dan mendongak sudah menjadi keahlian, kemudian ada bertubi-tubi sebentuk manusia lain yang datang dalam sosok yang begitu nyata. Terasa dekat dan realistis dengan kehidupan kita. Tetapi dengan perbedaan nasib yang sungguh sangat berbeda di saat akses yang dimiliki sebenarnya sama. Manusia-manusia yang penuh pengakuan ini kemudian menjadi satu komunitas yang masif dan membuat sebagian orang lainnya (yang sama atau merasa sama visinya) akan terus-terusan mendongak.

Membiasakan diri melihat sesuatu yang nampak luar biasa di mata kita akan berbahaya saat kita mulai resisten dan merasa itu hal yang biasa, di saat sebenarnya kita dari awal mendongak sampai merasa biasa saja itu tetap tidak melakukan apa-apa. Kita bisa saja mengelompokkan orang-orang yang begitu sureal sampai ke kelompok orang yang seolah masih bisa kita samai walaupun kondisinya jauh di atas kita. Asal kita tetap konsisten mendongak. Lalu mengikuti apa-apa hal paling masuk akal yang bisa kita ikuti. Kelompok yang begitu sureal biarkan tetap menjadi inspirasi, karena tidak pernah dipungkiri bahwa mereka adalah chandelier yang membuat ruang gerak kita menjadi terang dan nampak indah.

Kalau kita tidak hanya terpana dengan chandelier itu dan tetap berjalan menuju ruang temaram yang indah dan hangat, mendongak tidak apa-apa. Nyatanya memang chandelier itu yang membuat mudah semuanya. Atau harus dikatakan trigger karena setidaknya dia yang merasa bahwa kita pantas berada di satu ruangan dengan dekorasi yang indah.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Nauraini

Foto saya
Nauraini
Confirmed INFP's
Lihat profil lengkapku

about Nauraini

Hola! Welcome to Nauraini's blog (or rant platform). Nau is an INFP who obsessed with art, minimalism and writing. You can discussed with Nau about :
communication, movie, music and writing.
At this time, Nau already published her first novel Jarak Antarbintang (2018, Elex Media Komputindo). You can connect with Nau through her Wattpad, Twitter, Instagram. Nau very fond of friends, so :)

Nau's Instagram

@nauraini

Get in touch with Nauraini

  • LinkedIn
  • Spotify
  • Goodreads
  • twitter
  • instagram
  • youtube

Categories

  • Book
  • Human
  • INFP
  • Indonesia
  • Podcast
  • Reading
  • Self Reflection
  • Writing

Blog Archive

  • Desember 2020 (1)
  • Maret 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • November 2019 (2)
  • Oktober 2018 (1)
  • Juni 2018 (9)

Nau's On Going Story

Nau's bookshelf: read

Parijs van Java: Darah, Keringat, Air mata
really liked it
Parijs van Java: Darah, Keringat, Air mata
by Remy Sylado
Pride and Prejudice
liked it
Pride and Prejudice
by Jane Austen
The Nose
it was amazing
The Nose
by Nikolai Gogol
A Portrait of the Artist as a Young Man
it was amazing
A Portrait of the Artist as a Young Man
by James Joyce
Ulysses
it was amazing
Ulysses
by James Joyce

goodreads.com

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates