• Home
  • Thoughts
  • Writing
  • Journey
  • Inspiration
  • Portfolio
Pinterest Instagram Twitter Facebook Email

Naimmah Nur Aini

Yak, perlu waktu berjuta tahun lamanya buat sekedar update lima list lainnya. Sungguh sebuah kesia-siaan duniawi yang kuhabiskan setiap harinya hahaha. 

Yok lah mari kita lanjutkan daftar selanjutnya untuk coba mengidentifikasi hal-hal yang kita lakuin setiap harinya itu udah bener apa belum. 

6. Kamu tidak lagi takut menjalani hari-harimu seperti kamu yang dahulu

Secara harfiah mungkin bukan 'takut' karena ada hal-hal yang tidak menyenangkan menghadang setiap harinya. Tapi lebih ke perasaan-perasaan gagal yang kelamaan bersarang tanpa pernah dievaluasi apa sebabnya. 

Misalnya dulu aku adalah tipe orang yang begitu inferior atas hal apapun yang melakat dalam diriku. Selalu mengolok diri bahwa aku gendut lah, kayak ibu-ibu lah, nggak punya selera fashion lah, cemen mau kemana-mana sendiri bahkan untuk nonton bioskop sendiri. Tapi, dengan perasaan tidak nyaman yang aku pelihara selama ini, aku tahu bahwa aku salah dengan semua perasaan itu. Akhirnya pelan-pelan aku mencoba untuk mulai menerima diriku apa adanya. Ya beginilah, emang kenapa? Aku embrace diriku untuk berani berkata, bersikap lebih gentle ke diri sendiri. Dan itu terbukti manjur untuk lebih bersikap bodo amat untuk hal-hal yang nggak esensial untuk dipikirkan:). Belum semuanya di titik meningkatkan kapasitas diri, tapi nggak apa-apa karena mungkin ada hal-hal yang cukup diterima saja tanpa perlu ada improve apa-apa. Karena terlalu banyak layer yang terlalu kompleks sampai kemampuan yang kita miliki masih di titik mengamini. 

7. Mau menerima bahwa hari-hari bisa sangat baik, atau sangat buruk

Nggak apa-apa kalau hari ini kamarmu rapi, beberapa jam kemudian udah berantakan kayak habis dihantam tangan Hulk padahal cuma lupa naruh hape pas beres-beresnya WKWKWK. Padahal ngumpulin mood-nya udah setengah mati. YA SUDAH BIASA. Kalau ada hari yang capek banget, kesel sama orang yang biasanya kulakukan adalah mikirin itu berjuta-juta hari dan akhirnya jadi destruktif ke diri sendiri. Kalau sekarang ya diamini saja namanya manusia biasa ya wajar aja kalau segala hal nggak selalu ideal. Ya sambil berkhayal satu hari atau beban segera pergi, dan kalau itu bisa membantu membuat perasaan lebih baik ya YAUDAH NGAYAL AJA nggak salah. Tapi mungkin perlu dibangun mindset kalau semua hal itu, baik dan buruk, akan berlalu. Jadi mungkin nggak bijak juga untuk terlalu attach sama satu momen, karena bersama kesedihan selalu ada kebahagiaan dan vice versa. Yang terpenting dari poin ini adalah hadir di sini, kini untuk merasakan semua proses dengan kesadaran penuh. 

8. Selalu menghargai semua orang

Attitude untuk menghargai semua orang itu mahal banget harganya. Attitude baik menurutku adalah investasi terbesar manusia. Untukku attitude selalu jadi indikator untuk menilai orang lain. Dengan membangun attitude tanpa menghakimi akan membawa kita pada petualangan-petualangan perspektif yang lebih luas. Kalau ditanya apa goals dari bersikap respect ini? Kalau menurutku kebijaksanaan dan ego. Ada dua hal esensial yang akan kita dapatkan apabila kita membentuk sikap menghargai orang lain ini. Kebijaksaan termasuk di dalamnya adalah ilmu, pengalaman (baik dan buruk), kesabaran dan juga ego bahwa di bawah langit masih ada langit atau ego untuk tidak menghakimi dengan apa yang kita anggap kita berdampak untuk kita. 

9. Kamu tahu apa 'panggilan jiwamu' 

Lanjutannya adalah agar orang lain tidak bisa menghentikan langkahmu. Nggak salah untuk bercita-cita jadi influencer, dokter, arsitek, konsultan, model you name it. Atau mungkin yang banyak digaungkan orang adalah passion. Silakan aja pakai istilah itu kalau kamu nyaman. Kalau aku lebih suka dengan istilah 'grit'. Mungkin bisa dibilang grit ini adalah next level dari passion. Grit adalah kekuatan passion ditambah kegigihan kalau kata Angela Duckworth. 

Beberapa hari yang lalu, ada seorang kawan yang bercerita bahwa dia bingung dengan tujuan karirnya. Dia tahu yang dia mau adalah bekerja sebagai copywriter, tetapi ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan lain, dia sedikit bingung untuk mengambil keputusan. Dan, menurutku hal seperti ini juga banyak terjadi pada oranglain, termasuk aku sendiri. Kalau ditanya apa yang menjadi tujuanku dalam hidup maka ada hal esensial yang harus menjadi pegangan. Walaupun jalan menuju tujuan itu harus dibreakdown menjadi tujuan karir, tujuan percintaan, tujuan pendidikan atau apa pun. Dan tujuan-tujuan dari masing-masing lini kehidupan itu yang mungkin saja dinamis, dan itu nggak apa-apa dan wajar. Menurutku yang harus diketahui adalah mengenai tujuan hidup yang paling utama itu apa? Kita ingin menjadi orang seperti apa? Itu yang akan menjadi pegangan kita untuk lebih realistis dalam melangkah, seabstrak apa pun tujuan hidup kita. Tujuan-tujuan pada berbagai lini itu yang akan membuatnya menjadi konkret. 

10. Kamu tahu apa yang kamu lakukan

Sedang dan akan. Jadi orang-orang tidak mudah menjatuhkanmu. Persistence atau kegigihan dengan apa yang menjadi tujuan hidupmu dan kamu melakukannya dengan senang hati, serius maka jalan akan lebih terang. Menjadi strategis untuk semua tujuan-tujuan hidup kita. Memahami diri sendiri (kelebihan, kelemahan) dan mengamini semua hal itu untuk melakukan upaya terbaik. Tidak takut pada pilihan, tidak takut gagal, tidak takut konsekuensi. Juga memahami bahwa tidak takut adalah sikap keberanian dan penerimaan diri bahwa gagal dan berhasil adalah biasa. Tidak takut adalah memberikan kesadaran penuh pada proses-proses yang dilalui. Tidak apa untuk gagal, tidak apa untuk lelah, tidak apa untuk marah dan sedih. Lalu, memacu diri untuk bergerak lagi, untuk maju atau berganti haluan. Kalau pun ingin berhenti di tempat, sadar konsekuensinya. 

--

Bagian satu bisa di baca di sini

Sumber: Thought Catalog
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Pagi ini entah kenapa aku terpikir tentang pertanyaan, "Bagaimana aku tahu bahwa yang aku lakukan itu benar?" Tentang apa yang benar untuk dilakukan ini bukan hanya tentang pekerjaan, jurusan kuliah yang sedang kita jalani, hobi yang kita tekuni, tetapi mencakup segala hal yang melibatkan kita sebagai manusia, baik untuk diri sendiri maupun ketika menjalani peran sebagai makhluk sosial. 

Pertanyaan yang bahkan dengan satu indikator pun rasanya tadi tidak terpikirkan jawabannya sama sekali. Sampai pada akhirnya ketika di kantor, aku mencoba mencari jawabannya dan ada satu artikel panjang yang cukup menjawab pertanyaanku, walaupun secara spesifik aku juga tidak bisa mengutarakan dengan tepat masing-masing experience yang pernah aku alami untuk mengklaim bahwa di satu poin tertentu aku berhasil melaluinya atau punya mindset seperti itu. Atau mungkin mengetahui apa yang sudah benar dilakukan cukup dirasakan dengan hati? 

Tapi berhubung aku orangnya ngeyelan, maka cobalah kucari tahu hal konkret sebagai bahan konfirmasi. 

Ditemani lagu Honne, dan menganggap James Hatcher mirip Joshua Millburn-nya The Minimalist, here we go. 

1. Dapat merasakan bahwa apa yang kamu lakukan adalah hal yang benar dan itu dibuktikan dengan kamu merasa senang melakukannya

Dari poin satu ini sepertinya tidak ada hal yang bisa dibantah selain mengamini. Benar bahwa ketika mempertanyakan apa yang benar untuk dilakukan bisa dimulai dengan menanyakan ke diri kita sendiri bagaimana perasaan kita tentang apa yang sedang kita kerjakan. Sebagai contoh untuk mengonfirmasi pesan ini adalah aku suka sekali nonton Netflix atau film bagus yang bertema misteri, politik maupun kriminal. 

Ketika waktu banyak kuhabiskan untuk menonton serial atau film, aku tidak akan merasa bersalah pada diriku. Karena menurutku waktu yang kuinvestasikan untuk sebuah film atau serial adalah hal yang menyenangkan sekaligus upaya untuk belajar lebih banyak hal seperti universe-universe yang terbangun di dalamnya, pendalaman karakter, budaya, musik dan berbagai hal lain sebagaimana sebuah film seharusnya memainkan perannya, untuk memberikan hiburan itu utama, dan dampak ikutan seperti memberikan informasi atau kritik sosial. Dan banyak hal lain yang menyenangkan untuk kulakukan seperti menonton YouTube, polanya dan sensasi menyenangkannya sama ketika menonton serial/film. 

2. Ketika kamu terus melakukan sesuatu bahkan ketika tidak bisa menjelaskan kenapa kamu begitu menyukai melakukannya

Mungkin poin yang ini bisa didebat, tapi aku masih setuju. Pun mungkin jawabannya hanya sesimpel preferensi. Dan tidak ada yang salah ketika berhubungan dengan preferensi atau selera pribadi, bahkan untuk hal yang tidak bisa dijelaskan seperti suka melihat video treatment yang dilakukan dokter kulit ketika mengeluarkan komedo dari hidung pasiennya. Dan... itu aku hahaha. Walaupun bagi sebagian orang itu menjijikkan, aku tetap suka melihatnya. Tapi dalam skala yang lebih serius sepertinya untuk kasusku adalah decluttering.

Beberapa waktu ini aku lagi suka-sukanya dengan konten-konten minimalism, yang seringkali di dalamnya ada konten mengenail decluttering. Walaupun dari apa yang kudapatkan dari melihat semua hal tentang minimalism, belum banyak yang kupraktekkan, tapi aku suka sekali melihatnya. Bahkan terus-menerus aku menantang diriku untuk segera mengikuti tips yang sangat bisa kulakukan, tapi persentasenya masih kecil. Dan untuk kasus minimalism ini, terjadi dua paradoks yang sulit kubantah, ketika begitu sukanya aku dengan konten minimalism, ada hasrat yang begitu besar juga untuk terus-terusan belanja terutama skincare dan baju-baju berwarna monokrom. 

Walaupun untuk beberapa barang aku sudah tidak punya keterikatan emosi dan begitu mudah untuk decluttering, tapi dari kasus yang sama masih susah untuk menahan hasrat belanja untuk berang-barang tertentu. Tapi ini super tertentu aja, so I still appreciate myself for that. Karena pelan-pelan aku sudah mulai aware tentang barang-barang yang perlu kubeli atau tidak. Untuk paradoks di atas, aku bahkan tidak bisa menjelaskannya tetapi aku suka melakukannya. 

3. Kamu sudah berdamai dengan segala sesuatu yang terjadi di masa lalu

Poin ini menurutku sangat tepat dan begitu berdampak untukku pribadi. Aku adalah orang yang terlalu overthinking untuk segala hal yang sudah terjadi dan belum terjadi. Pikiranku terlalu rajin berkelana untuk melintasi batas ruang dan waktu hanya untuk membuatku pada akhirnya merasa resah, bersalah dan marah. Sebagai INFP, aku mengakui bahwa hidup di saat ini, kini begitu sulit untuk dilakukan. Itulah salah satu hal yang mendorongku untuk melakukan meditasi, sehingga berharap bisa lebih mindful dalam menjalani hidup. Bahasan mengenai meditasi dan mindful ini akan aku bahas di lain waktu. 

Waktu itu di Twitter aku sempat menulis tentang Alexithymia yang merupakan gangguan psikologis ketika kita tidak bisa mendeskripsikan emosi dan perasaan yang kita alami secara verbal. Dan, belum berdamai dengan masa lalu menurutku erat kaitannya dengan itu. Sempat kupikir apakah konsep berdamai dengan masa lalu adalah abu-abu, dan seorang teman bilang bahwa tidak. Berdamai dengan masa lalu bukan hanya sekedar konsep apalagi abu-abu. Bahwa kelegaan atau legowo yang dia bilang pasti bisa kita rasakan. Sebagai bukti bahwa kita sudah berdamai dengan masalalu dan melakukan hal yang tepat. 

4. Orang meluangkan waktu untukmu

No complaints about this. Menurutku ketika aku, kamu, kita sudah melakukan sesuatu yang benar, baik atau bahkan perbuatan tanpa label yang berarti bagi oranglain, menginvestasikan cinta melalui medium apa pun, entah dimaksudkan secara sengaja atau tidak, berdampak langsung maka sudah menjadi hukum alam rasanya bahwa cinta tersebut akan berbalas dengan sama besarnya atau bahkan dari orang yang tak diduga-duga berbondong-bondong meluangkan waktu untukmu. Dalam skala kecil, mungkin teman, keluarga, kolega. Dalam skala besar, kamu mungkin saja menjadi imam yang dipuja-puja dan diikuti titahnya. 

5. Kamu menyayangi dan menjaga dirimu

Belakangan, konsep self love sedang marak disuarakan seiring dengan orang-orang mulai sadar tentang kesehatan mental. Ada begitu banyak cara yang secara sederhana bisa dilakukan untuk menginvestasikan cinta untuk diri sendiri. Baik aktivitas fisik maupun psikologis banyak yang memiliki dampak positif untuk cinta diri ini. Dan, sekali lagi tidak ada komplain tentang poin yang ini. Hal yang paling benar untuk dilakukan ketika kamu mempertanyakan berbagai hal lain yang mungkin masih jadi pertanyaan besar, tetapi cinta diri ini harus menjadi hal konkret yang dilakukan. 

Implementasi cinta diri mungkin berbeda bagi setiap orang. Tapi tujuannya untuk kesehatan dan kebahagiaan sehingga bisa mencapai kesejahteraan.

--

Postingan ini akan berlanjut ke bagian dua. 

Sumber: Thought Catalog
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Sudah terlalu lama blog ini terbengkalai bahkan sebelum banyak berisi cerita. Hari ini, tergerak untuk mendengarkan dan mengambil ilmu dari apa yang Mbak Windy Ariestanty sampaikan dalam workshop menulis yang saya syukuri karena bisa dilihat melalui website Narasi TV. 

Dan apa yang disampaikan oleh Mbak Windy selalu menakjubkan buat saya. Hampir tidak ada penyangkalan, selain perasaan mengamini. Sayang banget sama Mbak Windy yang sedemikian rupa ketika menceritakan, bahkan dalam sesi wokshop-pun yang dia sampaikan adalah menerapkan apa yang akan dia sampaikan, yaitu bercerita. 

Dalam workshop yang berjudul Give Your Story A Voice Mbak Windy menyampaikan bahwa seseorang bercerita itu adalah upaya-upaya untuk membangun empati. Dimulai dari pentingnya bercerita yang menurutnya adalah bahwa cerita berguna untuk memperpanjang ingatan tentang sesuatu. Kenapa pencatatan ini penting dikarenakan berhubungan dengan kepunahan. Langsung oleh Mbak Windy dimulai dengan cerita mengenai bukti-bukti peradaban di salah satu daerah di Pulau Maluku yaitu di Pulau Tanimbar Kei. Seorang antropolog Perancis konon menceritakan bahwa di Pulai Tanimbar Kei tidak ada yang mampu menjelaskan mengenai struktur bangunan rumah asli penduduk Kei dan juga tradisi budaya yang masih mereka lakukan hingga saat ini, selain apa yang mereka katakan, menurut nenek moyang mereka. Hal tersebut dikarenakan tidak ada pencatatan sama sekali mengenai kebudayaan Tanimbar Kei. Satu-satunya pencatatan yang ada adalah milik antropolog Perancis tadi dan dibawa pulang ke negaranya. 

Dari cerita tersebut Mbak Windy bilang bahwa pencatatan atau cerita menjadi penting untuk memperpanjang ingatan tentang sesuatu. Dikatakan oleh Mbak Windy, "Ingatan menjadi mudah untuk ditelusuri karena ada bukti dan kita menjadi tidak lupa."

Menyambung dari apa yang disampaikan oleh Mbak Windy, aku juga menyadari bahwa pentingnya pencatatan adalah agar kita tidak begitu mudah lupa untuk hal-hal yang sebenarnya penting, tapi karena kita menjalani dengan setengah hati atau tidak dalam kesadaran penuh, maka akan semudah itu lupa. Contohnya? Semua mata kuliah/pelajaran kita. Ketika tidak dibantu oleh pencatatan kita atau mendapat bukti-bukti tertulis maka sepertinya sedikit mustahil kita akan mengingat kembali ketika membutuhkan pengalaman atau pengetahuan tertentu. Bahkan, aku yang dulu suka mencatat berbagai hal di buku kecil ketika ditanya satu bagian saja yang pernah kutulis, maka hampir dimungkinkan aku sudah tidak mengingatnya. Tetapi ketika dirangsang dengan membaca pencatatan tersebut, aku bisa mengingat sedikit banyak pada momen apa aku mencacat hal tersebut. Dari pencatatan bisa meresonansi cerita yang ada. 

Poin kedua ketika ditanya apa pentingnya bercerita adalah menghubungkan manusia. Dicontohkan oleh Mbak Windy mengenai cerita John Hersey penulis Hiroshima bahwa dari cerita tersebut semua orang tergerak untuk berpikir dan berempati bahwa tidak ada sedikit pun keuntungan yang didapatkan dari perang. 

Cerita juga mampu membangun empati dari orang-orang yang membaca atau mendengar. Seperti halnya cerita-cerita personal di Instagram, Twitter (thread) yang mampu menggerakkan orang-orang untuk berempati, seperti memberika bantuan material atau berupa dukungan. Untuk poin ini, banyak sekali contohnya, bukan hanya kejadian dalam hitungan hari, bahkan bisa hitungan detik. Konten-konten berseliweran mengenai cerita individu, kelompok maupun kondisi-kondisi yang merangkum isu publik untuk membuat semua orang relate. Cerita pada intinya berbahan dasar 'manusia', maka dari itu yang akan dihasilkan adalah empati. 

Pencerita-pencerita (kita), penulis sedang bekerja untuk kemanusiaan. Kita sedang menyelamatkan kemanusiaan. 

Lebih lanjut Mbak Windy menyampaikan elemen penting dalam bercerita agar mampu membangun empati. Elemen pertama yang menurutnya penting adalah berbagi pengalaman. Ketika orang berbagi pengalaman, orang lain tidak ada yang keberatan untuk menyimak. Berbagi pengalaman adalah perjalanan paling autentik yang bisa menjadi kunci untuk membangun empati orang lain. Terlebih ketika apa yang dialami adalah hal-hal yang dekat kehidupan banyak orang seperti pengalaman menjadi ibu, pengalaman berjuang untuk beasiswa dan pengalaman liburan di daerah-daerah eksotis Indonesia dengan kekayaan alam dan kebudayaan yang indah. 

Cerita juga membuat kita tidak menyerah satu sama lain. Ketika apa yang baru saja terjadi pada republik ini ketika demonstrasi mahasiswa dengan tujuh tuntutan terhadap kinerja pemerintah menjadi aksi yang sangat akbar. Bahwa cerita bisa menjadi semangat kolektif untuk akhirnya bisa menggerakkan begitu banyak orang untuk memperjuangkan nasibnya. Bahwa perjuangan kolektif ini bukan perjuangan satu orang melainkan perjuangan seluruh warga negara untuk haknya. 

Cerita juga membuat manusia lebih peka. Dan ini sangat kuamini. Sudah tidak terhitung lagi cerita-cerita yang saya dengarkan dari teman, orang yang tanpa sengaja temui atau orang yang secara sengaja memang saya minta untuk cerita. Dari apa yang mereka ceritakan, membuat aku sebagai manusia lebih peka seperti mengerti perasaan oranglain tanpa harus mengalami apa yang orang tersebut alami. Cerita adalah pintu-pintu menuju sejarah-sejarah penting bagi manusia.

Cerita yang mempunyai kekuatan adalah cerita yang bisa membangkitkan empati, kemanusiaan dan memiliki nilai. Setuju kah kamu?

Jadi, apa cerita berharga yang pernah kamu dengar?

Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Tidak ada pagi yang dilewati tanpa resah. Apalagi hari-hari yang setiap harinya membuat kontak langsung dengan media sosial. Pasti ada resah setelahnya. Resah ini dalam artian baik sepertinya. Mungkin sebagai awalan aku akan menceritakan bahwa aku adalah pengguna aktif media sosial. Semua media yang trending, aku hampir menggunakannya walaupun kebanyakan hanya sebagai penikmat dan bukan sebagai konten kreator. 

Dan resah itu, pagi ini dan pagi-pagi sebelumnya berwujud Ranitya Nurlita, Gita Savitri Devi dan Alamanda Shantika. Ketiga orang yang sangat terasa karismanya karena menjadi orang-orang yang peduli dengan isu sosial di sekitarnya. Dimulai dari Kak Lita, sapaan Kak Ranitya, aku mengenalnya pertama kali saat melakukan sebuah pekerjaan dan beliau menjadi mentor. Saat dijelaskan begitu banyaknya prestasi beliau terutama di bidang lingkungan yang ada di benakku adalah suatu hari nanti aku juga ingin seperti dirinya. Menjadi orang yang sebegitu pedulinya dengan bumi yang dipijaknya. Beliau adalah inisiator #ASEANReusableBagCampaign. Tidak sulit untuk menjadikan Kak Lita sebagai role model karena sifatnya yang humble dan suka berbagi ilmu serta pengalaman. Dan untuk hidupnya yang selalu dinamis dan terlihat selalu ada saja yang dikerjakan aku iri dengan itu. Rasa iri yang ingin aku pertahankan. Terlebih tentang hatinya yang penuh kepedulian itu, aku sangat iri. Senang rasanya pernah memiliki kesempatan berinteraksi dengan beliau. Maaf ya Kak Lita, aku mau izin memilihara rasa iri ini biar setiap harinya tetap termotivasi agar suatu saat nanti bisa seperti kakak. 

Tentang Gita Savitri. Pasti nama yang sudah tidak asing. Dari semua konten Gita sudah pasti yang banyak digemari adalah Youtube dan instagramnya. Untukku, Youtube dan Blognya. Aku suka bagaimana Gita selalu tanpa tendeng aling-aling menyampaikan opini dengan cara yang objektif. Dan yang membuatku kagum adalah tentang bagaimana dia selalu mengajak orang untuk bermanfaat untuk orang di sekitarnya. Peka terhadap isu sosial dan selalu toleransi. Sebenarnya dari yang kulihat sudah banyak anak muda yang memiliki pemikiran sekritis Gita, tapi bedanya masih sangat jarang yang speak up. Banyak anak muda itu hanya eksis di golongannya saja padahal potensinya begitu besar untuk membawa perubahan. Tidak sedikit juga anak Indonesia yang kuliah di luar negeri dan punya keresahan yang sama dengan Gita, tapi mereka tidak memvisualkan apa yang ada di kepala mereka seperti yang Gita lakukan. 

Baru beberapa hari yang lalu aku tahu tentang Alamanda Shantika, tapi lupa dari mana awalnya. Alamanda bagiku juga adalah seseorang yang hebat dengan idealisme yang kuat. Bukan hanya karena dia mampu membawa sebuah start-up terbesar di Indonesia menjadi sangat maju tetapi adalah bagaimana dia memanfaatkan momen dengan kejayaan itu untuk membuat dampak yang lebih besar. Kibar. Adalah organisasi nirlaba yang fokus untuk membatu pengembangan startup digital di Indonesia dan saat ini sedang fokus dalam Gerakan 1000 Start-up Digital. Masih teringat jelas dalam speech-nya di Kibar bahwa saat ini driver Go-Jek dimana Alamanda sebelumnya menjadi VP-nya sebanyak 250ribu orang. Dan sebanyak orang itu adalah tulang punggung keluarga. Secara tidak langsung bahwa dengan adanya Go-Jek, Alamamda bisa memberi makan begitu banyak orang di Indonesia. Begitulah yang dia tanamkan dalam dirinya bahwa kalau ada 1000 start-up, bukan tidak mungkin 255 juta penduduk Indonesia akan terpenuhi kebutuhannya. Itulah yang akhirnya membawa Alamanda untuk meninggalkan Go-Jek dan beralik ke Kibar. Tentang menjadi peduli untuk orang lain. 

Resah ini semakin membanjiri diri. Berpikir dengan cara apa bisa berguna bagi orang lain. Berpikir bagaimana caranya bisa menjadi salah satu sosok perempuan terutama pemuda Indonesia agar memberikan dampak positif bagi sekitar. Kebanjiran yang menyenangkan. Kebanjiran resah.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Nauraini

Foto saya
Nauraini
Confirmed INFP's
Lihat profil lengkapku

about Nauraini

Hola! Welcome to Nauraini's blog (or rant platform). Nau is an INFP who obsessed with art, minimalism and writing. You can discussed with Nau about :
communication, movie, music and writing.
At this time, Nau already published her first novel Jarak Antarbintang (2018, Elex Media Komputindo). You can connect with Nau through her Wattpad, Twitter, Instagram. Nau very fond of friends, so :)

Nau's Instagram

@nauraini

Get in touch with Nauraini

  • LinkedIn
  • Spotify
  • Goodreads
  • twitter
  • instagram
  • youtube

Categories

  • Book
  • Human
  • INFP
  • Indonesia
  • Podcast
  • Reading
  • Self Reflection
  • Writing

Blog Archive

  • Desember 2020 (1)
  • Maret 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • November 2019 (2)
  • Oktober 2018 (1)
  • Juni 2018 (9)

Nau's On Going Story

Nau's bookshelf: read

Parijs van Java: Darah, Keringat, Air mata
really liked it
Parijs van Java: Darah, Keringat, Air mata
by Remy Sylado
Pride and Prejudice
liked it
Pride and Prejudice
by Jane Austen
The Nose
it was amazing
The Nose
by Nikolai Gogol
A Portrait of the Artist as a Young Man
it was amazing
A Portrait of the Artist as a Young Man
by James Joyce
Ulysses
it was amazing
Ulysses
by James Joyce

goodreads.com

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates